Sidrap, katasulsel.com — Panggung itu segera dibuka.
Bukan panggung biasa. Ini panggung perebutan arah politik.
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sidrap bersiap menggelar Musyawarah Cabang (Muscab). Waktunya dekat. Taruhannya jelas: siapa mengendalikan partai berlambang Ka’bah di Bumi Nene Mallomo ke depan.
Satu nama masih berdiri di depan.
Patahuddin.
Ketua DPC saat ini. Juga anggota DPRD Sidrap periode 2025–2029.
Di internal, dukungannya belum goyah. Mayoritas kader masih melihatnya sebagai figur yang layak melanjutkan.
Alasannya sederhana: hasil.
Di bawah kepemimpinannya, PPP Sidrap mampu mengamankan tiga kursi DPRD. Tidak spektakuler, tapi cukup untuk menjaga eksistensi—dan tawar-menawar politik.
Tapi politik tidak pernah diam.
Di balik dukungan ke petahana, arus lain mulai bergerak.
Nama-nama mulai muncul ke permukaan.
Ihsan.
Mahmuddin Yusuf.
Belum resmi. Tapi sudah cukup untuk memanaskan ruang.
Karena dalam tradisi Muscab, kemunculan nama adalah tanda: ada kontestasi.
Wakil Ketua DPC PPP Sidrap, Padly Suyuti, tidak menampik dinamika itu.
Muscab, kata dia, tinggal menunggu waktu. Bulan ini—atau paling lambat bulan depan.
Artinya, hitungan sudah dimulai.
“Memang ada beberapa nama yang disebut-sebut akan maju,” ujarnya.
Kalimat yang terdengar datar. Tapi maknanya dalam: pintu kompetisi sudah terbuka.
Di sinilah politik internal bekerja.
Di satu sisi, petahana diuntungkan oleh struktur. Ia punya jaringan. Punya rekam jejak. Punya loyalitas kader.
Di sisi lain, penantang bermain pada momentum. Membaca celah. Menguji apakah dukungan itu solid—atau hanya tampak di permukaan.
Muscab bukan sekadar forum.
Ia adalah arena adu pengaruh.
Siapa menguasai suara. Siapa mengunci dukungan. Siapa mampu menggerakkan mesin partai.
Yang menarik, kontestasi ini tidak sepenuhnya soal siapa paling kuat.
Tapi juga soal arah.
Apakah PPP Sidrap akan mempertahankan pola lama—stabil, terukur, menjaga kursi yang ada?
Atau mencoba lompatan baru—dengan wajah berbeda, strategi berbeda?
Di titik ini, pilihan kader akan menentukan.
Satu hal yang pasti: Muscab kali ini tidak akan sepi.
Ada petahana yang masih kokoh.
Ada penantang yang mulai bergerak.
Dan ada kader yang sedang menimbang: bertahan atau berubah.
Di politik, satu suara bisa mengubah arah.
Dan di PPP Sidrap, suara-suara itu segera menentukan:
Apakah kekuasaan bertahan di tangan lama—
atau berpindah ke wajah baru. (*)
