Sidrap, Katasulsel.com — Sawah di Desa Salobukkang, Kecamatan Dua Pitue, bukan cuma panen padi. Ia panen momentum.

Senin itu, 2 Maret 2026 atau 12 Ramadan 1447 Hijriah, suasana terasa berbeda.

Di tengah hamparan 362 hektare lahan yang baru dipotong, Syaharuddin Alrif berdiri bukan sekadar sebagai tamu panen raya. Ia seperti “mandor besar” yang sedang memastikan mesin produksi bernama pertanian Sidrap tetap ngebut.

Angkanya tidak main-main. Produksi 3.300 ton. Harga gabah Rp7.200 per kilogram. Perputaran uangnya ditaksir menyentuh Rp25 miliar.

Di dunia pertanian, ini bukan sekadar panen. Ini fase “cuan musim rendeng”.

Syaharuddin paham betul, kunci pertanian hari ini bukan hanya soal luas tanam. Tapi soal ekosistem: harga, bibit, distribusi, hingga mental petani. Karena itu ia menekankan satu hal yang kini jadi jargon di banyak sentra pangan: produktivitas per hektare harus naik, bukan cuma luas lahannya yang ditambah.

“Cari bibit yang bagus, tanam lagi,” ujarnya, menantang ketua kelompok tani mengejar target satu juta ton gabah di musim tanam kedua.

Satu juta ton?

Bagi sebagian orang, itu terdengar seperti mimpi besar. Tapi di Sidrap, mimpi besar sudah lama jadi bahan bakar. Daerah ini memang dikenal sebagai lumbung beras Sulawesi Selatan. Dan kini, sepertinya, Syaharuddin ingin naik kelas: dari lumbung regional ke pemain papan atas nasional.

Dalam istilah petani, ini strategi “gaspol MT2”. Musim tanam kedua—April sampai Juli—harus dimaksimalkan. Bibit unggul disiapkan. Pola tanam diperketat. Penyuluh diturunkan.

Karena pertanian modern tak bisa lagi mengandalkan cara lama. Harus presisi. Harus hitung-hitungan. Harus tahu kapan tanam, kapan panen, kapan jual.

Yang menarik, Syaharuddin juga menyentuh sisi yang jarang dibicarakan dalam forum panen raya: spiritualitas sawah.

Ia mengajak petani memperbanyak zakat, infak, dan sedekah. “Insya Allah hasil panen bertambah dan terhindar dari hama padi,” katanya.

Bagi petani, hama bukan cuma wereng atau tikus. Ada juga “hama harga”—saat gabah jatuh di musim panen. Tapi kali ini, harga justru naik. Dari Rp4.000–Rp5.000, melompat ke Rp6.800 pada 2025, lalu Rp7.200 di 2026.

Itu artinya apa?

Artinya daya tawar petani sedang menguat.

Di Salobukkang, panen kali ini seperti pernyataan terbuka: Sidrap tak mau lagi sekadar dikenal sebagai daerah tanam-panen. Ia ingin dikenal sebagai daerah yang mampu mengelola siklus produksi secara utuh—dari benih sampai pasar.

Dan jika target satu juta ton benar-benar dikejar serius, maka panen di Dua Pitue ini bisa jadi bukan sekadar seremoni Ramadan.

Ia bisa jadi babak baru.

Babak ketika gabah benar-benar menjadi “emas hijau” yang menggerakkan ekonomi desa. (edy)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.