Nene’ Mallomo mengingatkan kita bahwa hukum yang lemah akan merusak kesejahteraan kolektif. Hukum yang tegas, sekalipun menyakitkan individu, justru menyelamatkan komunitas.

Jika hari ini kita menatap koridor pengadilan atau ruang sidang, bayangkan bahwa nilai yang dipegang Nene’ Mallomo masih relevan: keadilan bukan hanya soal rasa, tapi soal prinsip, integritas, dan keberanian. Dalam sejarah Indonesia, figur seperti ini jarang, tapi pengaruhnya abadi.

Ratusan tahun telah berlalu, namun di Sidrap, di setiap pertemuan adat, di setiap pappaseng (falsafah hidup Bugis), nama Nene’ Mallomo tetap dikenang. Ia bukan sekadar legenda; ia cermin dari keadilan yang tidak mengenal kompromi, pengingat bahwa integritas tidak bisa ditawar, dan hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.

Sejarah menyimpan kisah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menginspirasi. Seperti kata pepatah Bugis, “Hukum itu adalah nadi kehidupan; siapa yang meremehkannya, akan terseret arus bencana.” Nene’ Mallomo telah membuktikan: keadilan dan keberanian dalam menegakkan hukum dapat mengubah nasib rakyat dan bahkan menyeimbangkan alam.

Dan bagi Indonesia hari ini, inspirasi itu tetap hidup. Di ruang sidang, di meja hakim, di meja birokrat, kisah Nene’ Mallomo mengingatkan bahwa ketegasan bukan kejam, tapi penyelamat. Bahwa hukum yang ditegakkan dengan keberanian, keteguhan, dan integritas adalah hukum yang memberi kehidupan, bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi seluruh komunitas.(*)