📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Makassar, katasulsel.com – Ia datang ke studio Podcast Kata Abangda dengan kaus hitam sederhana. Rambutnya mulai beruban, potongan cepak.

Wajahnya tenang. Tak ada lagi aura “panglima bayangan” yang dulu berkeliaran dari Makassar hingga Mindanao.

Namanya Suryadi Mas’ud.

Pernah tiga kali keluar-masuk bui dengan kasus yang sama: terorisme. Total 17 tahun hidupnya habis di balik jeruji. Ia bukan pemain kelas teri. Ia pernah menyebut dirinya bagian dari jaringan internasional.

Bahkan, ia mengaku pernah menjadi “Duta Besar ISIS Asia Tenggara”.

Dan yang paling menohok: ia pernah mengafirkan Indonesia.

“Yang mengebom katedral itu anak murid saya,” ucapnya dalam podcast tersebut, tanpa berkelit.

Pengakuan yang bikin dada sesak.

Lahir dari Dua Kutub

Suryadi lahir di Pinrang. Anak pertama dari lima bersaudara. Ayahnya mantan TNI AD, pernah terlibat operasi melawan DI/TII. Ibunya justru berasal dari keluarga yang punya jejak berbeda—darah perlawanan DI/TII juga mengalir di sana.

Dua kutub ideologi itu seperti api dalam sekam.

Sulawesi Selatan, kata dia, sejak lama menjadi “hub”. Titik simpul. Penghubung jaringan.

“Sulsel ini hub,” ujarnya. Kalimat yang terdengar sederhana, tapi berat maknanya.

Ia mengaku pernah terlibat dalam berbagai fase gelap: dari insiden McDonald’s Makassar 2002, jejaring Bali I, latihan militer di Janto Aceh 2008, hingga pusaran aksi Sarinah 2016. Namanya juga dikaitkan dengan kamp pelatihan di Mindanao, Filipina Selatan.

Sampai akhirnya, Nusakambangan menjadi titik henti.

Cara Polisi “Menjinakkan”

Banyak yang bertanya: bagaimana orang dengan jejak sedalam itu bisa berbalik arah?

Jawabannya tidak instan. Bukan sulap. Bukan pula sekadar sumpah di atas materai.

Di dalam lapas, ia mengikuti program deradikalisasi. Pendekatan persuasif. Dialog ideologi. Pembinaan ekonomi. Pendampingan keluarga. Aparat tak lagi hanya bicara soal hukum, tapi juga masa depan.

Nama seperti Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Densus 88 dan Intelkam Sulsel mengambil peran sunyi itu.

Direktur Intelkam Polda Sulsel, Kombes Pol Hajat Mabrur Bujangga bersama Satgaswil Densus 88, memilih pendekatan soft power. Bukan cuma “ditangkap dan selesai”, tapi “ditangkap, dibina, diajak pulang”.

Tanggal 13 Februari 2023, Suryadi bebas bersyarat.

Di kampung halamannya di Malua, Enrekang, ia bersumpah setia kepada NKRI, Pancasila, dan UUD 1945. Ia resmi dicoret dari lingkaran lamanya. Dianggap pengkhianat oleh mantan kawan seperjuangan.

Risikonya nyata.

Tapi ia memilih jalan itu.

Dari Bom ke UMKM

Awal 2025, lahirlah Yayasan Rumah Moderasi Makassar (YRMM). Wadah ini menjadi “rumah singgah ideologi”.

Tempat eks napiter berinteraksi dengan masyarakat.

Sekitar 80 eks napiter dibina. Mereka belajar jual kopi, bikin kue tradisional, servis handphone, bengkel, hingga potong ayam. Sederhana. Tapi bermakna.

Radikalisme tak bisa dilawan hanya dengan senjata. Ia harus dipatahkan lewat dapur, warung, dan meja makan.

Pertengahan Maret 2026 nanti, Suryadi bersama 11 eks napiter dan 32 anggota keluarga mereka akan terlibat sebagai relawan SPPG Polri.

Mereka akan membantu penyediaan makanan bergizi bagi sekitar 3.000 siswa sekolah. Program ini mendukung kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Dulu merakit bom. Kini menyiapkan nasi kotak.

Kontras yang nyaris tak masuk akal.

Minta Maaf dari Pintu ke Pintu

Masa bebas bersyaratnya berakhir 9 Maret 2026. Setelah itu, ia berencana touring keliling Sulawesi Selatan. Mendatangi keluarga murid-murid yang dulu ia rekrut.

Untuk meminta maaf.

“Saya menyesali seluruh tindakan saya,” katanya.
Tak banyak eks kombatan yang berani mengambil langkah seberani itu.

Catatan Pentingnya adalah;

Apakah ancaman terorisme di Sulsel hilang?

Tidak.

Suryadi sendiri menyebut Sulsel masih menjadi titik rawan. Jaringan bisa mati suri, tapi ideologi bisa beranak-pinak di ruang sunyi.

Namun kisah ini memberi satu pesan: deradikalisasi bukan jargon. Ia kerja panjang. Sunyi. Tak viral. Tapi nyata.

Dari orang yang pernah mengafirkan Indonesia, kini berdiri seorang pria yang menyebut dirinya sahabat Polri.

Apakah publik akan sepenuhnya percaya? Waktu yang akan menjawab.

Yang jelas, kisah Suryadi Mas’ud adalah bukti: bahkan dari lorong paling gelap, seseorang masih bisa menemukan jalan pulang. (*)