Toraja, katasulsel.com — Pagi di Toraja tidak biasanya.

Bukan hanya kabut yang turun pelan dari perbukitan. Tapi juga rombongan rider dari berbagai arah—termasuk yang paling mencolok: dari Pinrang.

Mereka datang tidak sendiri. Mereka datang sebagai gelombang.

Nama timnya: Rebon Trail.
Dan hari ini, Sabtu, (28/3), mereka seperti “menguasai” lintasan.

Event “Jelajah Alam Bumi Pongtiku” memang bukan kegiatan baru di Toraja. Tapi angka 1.814 peserta tetap terasa mengejutkan.

Bukan sekadar ramai. Ini padat.

Dan dari angka itu, satu daerah paling menonjol: Pinrang.

Ada sesuatu yang menarik di sini.

Kenapa Pinrang?

Jawabannya bukan hanya soal hobi.

Komunitas trail di Pinrang memang dikenal solid. Mereka tidak sekadar berkumpul, tapi bergerak. Dari satu event ke event lain. Dari satu kabupaten ke kabupaten lain.

Dan Toraja selalu punya daya tarik tersendiri.

Advertisement

Medannya.
Alamnya.
Dan tantangannya.

Toraja bukan lintasan biasa. Ia seperti “ujian naik kelas” bagi para rider.

Maka ketika rombongan dari Pinrang turun gunung—secara harfiah—itu bukan sekadar ikut event. Tapi juga pembuktian.

Di lintasan, semua perbedaan hilang.

Rider dari Pinrang, Makassar, bahkan luar Sulawesi, melebur jadi satu. Sama-sama berjibaku dengan tanah licin, tanjakan curam, dan mesin yang kadang lebih keras kepala dari pengendaranya.

Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi Toraja.

Karena Toraja selalu punya kejutan.

Panitia menyebut ini sebagai salah satu event terbesar yang pernah digelar Kodim 1414/Tator.

Tapi angka bukan cerita utama.

Cerita sebenarnya ada pada perjalanan itu sendiri—dari Pinrang ke Toraja.

Perjalanan yang tidak pendek. Tidak mudah. Tapi justru di situlah letak maknanya.

Anak-anak muda itu memilih jalan panjang, jalan berlumpur, dibanding jalan pintas yang sering membawa ke arah yang salah.

Ardi Macho, panitia pelaksana, menyebut kegiatan ini sebagai cara mengajak generasi muda menjauh dari hal negatif.

Advertisement

Kalimat itu sederhana.

Tapi jika melihat langsung di lapangan, terasa lebih dalam.

Karena di Toraja hari ini, anak-anak muda tidak sedang dinasihati.

Mereka sedang diberi panggung.

Dan Pinrang, lewat komunitasnya, menunjukkan sesuatu: bahwa energi anak muda bisa diarahkan—bukan ditekan.

Toraja menyediakan alamnya.
Pinrang membawa semangatnya.

Keduanya bertemu di jalur yang sama: lumpur, tanjakan, dan tawa.

Mungkin ini yang tidak tertulis di spanduk acara:

Bahwa dari Pinrang ke Toraja, yang berpindah bukan hanya orang.
Tapi juga semangat.

Dan hari ini, semangat itu terdengar jelas—
dari deru knalpot yang tidak pernah benar-benar diam. (edy)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.