Jakarta, katasulsel.com – Universitas Hasanuddin (UNHAS), kembali mempercayakan tongkat kepemimpinan tertinggi kepada Prof Dr Jamaluddin Jompa MSc. Guru besar kelautan itu ‘oppo’ atau terpilih untuk kedua kalinya sebagai Rektor Unhas periode 2026–2030, setelah meraih dukungan nyaris mutlak dalam Pemilihan Rektor (Pilrek) yang digelar di Kampus Unhas Jakarta, Rabu.
Hasil pemungutan suara menegaskan posisi Jamaluddin Jompa—akrab disapa Prof JJ—sebagai figur dominan dalam lanskap kepemimpinan akademik Unhas. Dari total suara sah, Prof JJ mengantongi 23 suara atau setara 95,83 persen. Dua kandidat lain, Prof Budu PhD SpM(K) MMedEd hanya memperoleh satu suara, sementara Prof Dr Sukardi Weda MHum MPd MA tidak mendapatkan dukungan suara sama sekali.
Kepala Bidang Humas Kantor Sekretariat Rektor Unhas, Ishaq Rahman, menyebut kemenangan telak ini sebagai refleksi kepercayaan kuat pemangku kepentingan terhadap arah kebijakan dan kinerja kepemimpinan Prof JJ selama periode sebelumnya.
“Prof Jamaluddin Jompa selaku petahana dipastikan kembali memimpin Unhas setelah memperoleh 23 suara sah dari total suara yang masuk,” kata Ishaq di Makassar.
Dominasi suara tersebut bukan sekadar kemenangan prosedural, melainkan sinyal politik kampus yang kuat. Dalam konteks tata kelola perguruan tinggi, dukungan hampir bulat dari Majelis Wali Amanat (MWA) menandakan konsensus elite akademik terhadap model kepemimpinan yang mengedepankan stabilitas institusional, keberlanjutan kebijakan, serta penguatan daya saing universitas.
Sebagaimana diketahui, dari 19 anggota MWA Unhas, sebanyak 17 orang memiliki hak suara dalam Pilrek. Mereka berasal dari unsur ex-officio, perwakilan dosen, tenaga kependidikan, serta unsur masyarakat. Unsur ex-officio yang memiliki hak suara mencakup Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Gubernur Sulawesi Selatan, Ketua Umum IKA Unhas, serta Ketua Umum BEM Unhas.
Adapun dua anggota MWA yang tidak memiliki hak suara adalah Rektor dan Ketua Senat Akademik, sesuai ketentuan tata kelola universitas.
Dalam perspektif governance perguruan tinggi, komposisi pemilih ini mencerminkan prinsip checks and balances antara negara, masyarakat, sivitas akademika, dan mahasiswa. Kemenangan Prof JJ di hampir seluruh spektrum pemilih menunjukkan kemampuannya menjaga harmonisasi kepentingan lintas unsur.
Pada periode pertamanya, Prof Jamaluddin Jompa dikenal mendorong penguatan riset berbasis keunggulan lokal, internasionalisasi kampus, serta integrasi kebijakan tridarma dengan agenda pembangunan nasional dan regional. Unhas juga aktif dalam pengembangan riset kelautan, pangan, dan lingkungan—isu strategis yang relevan dengan karakter Sulawesi dan Indonesia Timur.
Periode kedua kepemimpinan ini, di mata pengamat pendidikan tinggi, menjadi fase krusial. Tantangannya bukan lagi pada konsolidasi internal, melainkan pada akselerasi kualitas: peningkatan reputasi global, hilirisasi riset, transformasi digital akademik, hingga penguatan tata kelola keuangan dan sumber daya manusia berbasis kinerja.
Bersambung…
Kemenangan telak Prof JJ juga membawa ekspektasi tinggi. Kontinuitas kepemimpinan memberi ruang untuk kebijakan jangka menengah yang lebih terukur, namun sekaligus menuntut inovasi agar Unhas tidak terjebak dalam comfort zone birokrasi akademik.
Dengan mandat hampir bulat dari MWA, Prof Jamaluddin Jompa memasuki periode 2026–2030 dengan legitimasi politik kampus yang kuat. Kini, publik menanti bagaimana legitimasi tersebut diterjemahkan menjadi lompatan kualitas institusi, agar Unhas tak hanya kokoh sebagai kampus besar di Indonesia Timur, tetapi juga kompetitif di panggung global. (*)






Tinggalkan Balasan