📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Seorang guru, Ibu Ratna, berkata: “Anak-anak lebih bersemangat ke sekolah. Orang tua lebih tenang. Kota ini berubah pelan tapi nyata. Proyek bukan sekadar bangunan, tapi mengubah pola hidup.”
Seorang pedagang kaki lima, Pak Joko, tersenyum: “Sekarang pantai ramai sampai malam. Dagangan laris. Orang betah. Proyek ini membawa berkah ekonomi juga.”

Di sore hari, saya duduk bersama beberapa warga di tepi pantai. Tayeb tersenyum sambil menunjuk ombak.

“Kalau dulu laut seperti raksasa yang mau menelan kota. Sekarang? Laut sahabat. Dia tetap datang, tapi dengan tertib.”
Pak Arif menimpali: “Iya, dulu tiap kali pasang, saya bawa payung, bawa perahu cadangan. Sekarang? Cukup bawa kursi dan kopi. Ombak malah bikin adem.”

Tawa warga pecah. Seolah semua merayakan perubahan yang nyata, sederhana, tapi monumental bagi kehidupan mereka sehari-hari.
Pantai & Bendungan: Dua Simbol, Satu Nafas

Pantai dijaga. Sawah dialiri. Dua proyek berbeda, tapi satu nafas. Proyek ini bukan datang tiba-tiba. Ada tangan politik di belakangnya, ada dukungan APBN, tapi yang paling penting: dampaknya dirasakan langsung warga.

Seorang tokoh pemuda lain menambahkan: “Ini proyek yang membuktikan bahwa pembangunan bisa nyata. Bisa disentuh. Bukan hanya laporan atau janji. Orang bisa melihat sendiri.”

Di malam hari, Pantai Raha masih ramai. Lampu-lampu kecil dari warung kaki lima menyorot pasir, menciptakan suasana hangat. Angin laut membawa aroma kopi, gorengan, dan garam. Anak-anak masih berlarian, pasangan duduk berdua, dan beberapa muda-mudi selfie dengan tembok beton sebagai latar.

Sementara itu, sawah-sawah menanti air dari bendungan Laiba. Suara gemericik air dari sungai kecil terdengar menenangkan. Petani mulai menyiapkan ladang besok.

Di pedalaman, lampu-lampu kecil dari rumah warga menandakan malam yang damai. Kota ini, perlahan, sedang hidup.
Refleksi Akhir

Muna tidak bermimpi besar. Ia sedang bekerja pelan-pelan. Tapi perubahan itu—perlahan—sudah terasa. Pantai aman, sawah bergairah, warga tersenyum, kota memiliki wajah baru. Semua itu bukan sekadar pembangunan fisik, tapi pembangunan kehidupan.

Di sana, di pantai yang ramah, di sawah yang mulai menanti hujan buatan, Muna sedang belajar: pembangunan itu bukan hanya soal megah, tapi soal hidup yang lebih aman, lebih tenteram, dan lebih manusiawi.

Dan bagi saya, berdiri di bibir Pantai Raha, menatap tembok beton, mendengar debur ombak, mencium aroma tanah basah sawah, serta melihat senyum warga—semua itu adalah bukti bahwa Muna sedang berubah, perlahan, tapi pasti.
Pantai dijaga. Sawah dialiri. Kota Muna sedang berevolusi. (*)