MAKASSAR — Politik Sulawesi Selatan sedang memasuki babak sunyi yang justru paling berisik. Tidak ada deklarasi besar. Tidak ada pidato berapi-api. Tapi satu langkah Rusdi Masse Mappasessu—RMS—cukup untuk mengguncang banyak ruang rapat partai.

Ia menyeberang.
Dari NasDem ke PSI.

Bukan sekadar pindah partai. Ini pindah generasi, pindah gaya, dan pindah medan.

RMS bukan kader kemarin sore. NasDem bukan rumah kontrakan. Di partai itu, ia tumbuh, berkuasa, dan mengukir pengaruh. Sulsel ia kendalikan cukup lama. Mesin partai berjalan. Jaringan hidup. Loyalitas terbentuk.

Lalu ia pergi.

Masuk ke PSI—partai yang masih sering dicibir sebagai “partai anak muda medsos”, partai yang belum kenyang oleh kursi. Tapi justru di situlah letak pesannya: RMS sedang membaca masa depan, bukan nostalgia.

Momentum hijrahnya pun simbolik. Rakernas PSI. Hotel Claro Makassar. Disaksikan kader nasional. Disahkan langsung oleh atmosfer politik yang ingin tampil beda.

Di titik itu, satu kursi kosong otomatis tercipta: Ketua DPW NasDem Sulsel.

Dan kursi kosong dalam politik tidak pernah lama kosong.

Masuklah nama Syaharuddin Alrif.

Bupati Sidrap aktif. Kader lama NasDem. Pernah menjadi Sekretaris DPW. Pernah satu meja. Satu piring—kata RMS. Bahasa yang sederhana, tapi maknanya dalam. Dalam politik, “satu piring” berarti pernah berbagi risiko, strategi, dan rahasia.

RMS tidak meninggalkan NasDem dengan amarah. Tidak pula dengan sindiran. Ia justru meninggalkan pesan yang terdengar seperti restu—atau ujian.

“Syahar sudah tamat juga,” katanya.

Kalimat pendek. Gaya RMS. Tapi tajam. “Tamat” di sini bukan sekadar pintar. Ia berarti cukup matang untuk naik kelas. Dari operator menjadi pengendali. Dari pelaksana menjadi penentu arah.

Pesan RMS jelas:
NasDem Sulsel sekarang bukan lagi warisan, tapi tanggung jawab penuh Syahar.

Menariknya, RMS tidak lagi bicara sebagai ketua. Ia bicara sebagai orang luar. Tapi orang luar yang tahu betul isi dapur. Itu membuat setiap kalimatnya terdengar lebih jujur—atau lebih menantang.

“Tinggal menjaga soliditas,” katanya.

Nah, di situlah pekerjaan berat dimulai.

Karena menjaga soliditas setelah figur dominan pergi, selalu lebih sulit daripada membangunnya sejak awal. Mesin boleh sama. Orang-orang boleh sama. Tapi gravitasi kekuasaan sudah berubah.

Syahar kini tidak hanya diuji sebagai bupati, tapi sebagai dirigen politik Sulsel. Ia harus membuktikan bahwa NasDem tidak hidup karena RMS semata. Bahwa struktur bisa bekerja tanpa figur sentral lama. Bahwa regenerasi bukan slogan.

Sementara itu, langkah RMS ke PSI juga bukan langkah tanpa risiko. PSI belum punya akar elektoral kuat di Sulsel. Tapi RMS membawa sesuatu yang tidak dimiliki PSI selama ini: pengalaman lapangan dan napas kekuasaan daerah.

Ini bukan soal logo gajah atau burung. Ini soal waktu.

RMS memilih melompat sebelum senja.
Syahar menerima tongkat saat matahari tepat di atas kepala.

Dua arah berbeda. Satu titik temu: politik tidak pernah berhenti bergerak.

Dan Sulawesi Selatan, sekali lagi, menjadi panggungnya. (*)