Abidin menatap kantong sembako, menatap Kapolsek, lalu tersenyum. “Terima kasih. Sudah lama saya tidak melihat orang peduli begitu,” katanya. Sunyi. Hanya suara angin menembus celah atap. Tapi jeda itu panjang dan hangat.
Rumah Abidin mungkin rapuh. Tapi ia tetap tegar. Hidup di kolong rumah mengajarkannya kesabaran, keteguhan, dan bersyukur, walau dunia tidak bersahabat.
Ketika Kapolsek dan personel meninggalkan rumah, mereka meninggalkan lebih dari sekadar bantuan. Mereka meninggalkan harapan, sedikit cahaya yang menyinari hari-hari kelam Abidin. Pesan sederhana: Anda tidak sendirian, ada yang peduli.
Di Desa Leppangeng, kolong rumah Abidin menjadi saksi bahwa kepedulian manusia bisa muncul
Abidin hidup di kolong rumah. Tapi kisahnya menembus batas fisik. Ia simbol ketabahan, pengingat bahwa rumah bukan sekadar bangunan, tapi kehadiran manusia lain yang peduli.
Saat malam tiba, ia menatap langit lagi. Rumahnya mungkin masih rapuh. Hidupnya mungkin masih berat. Tapi hatinya, sedikit demi sedikit, mulai terisi kepedulian dan harapan. (*)



Tinggalkan Balasan