Gea - Wajo Editor
Redaktur Katasulsel.com, mengawal isu publik dan pembangunan daerah
Artikel: 5 Lihat semua

Kolong rumah reyot. Hujan menetes di bahu. Tapi Abidin tetap tegar.

Oleh: St Rugayyah

Rumah seharusnya menjadi tempat pulang. Tapi rumah Abidin sudah nyaris roboh. Atap bocor, lantai lapuk, dinding retak. Yang tersisa hanyalah kolong rumah, tempat ia bertahan hidup setiap hari.

Setiap pagi, Abidin membuka mata di bawah kolong itu. Angin masuk melalui celah atap, membawa debu, daun kering, dan aroma hujan.

Saat hujan turun, tetesannya menimpa bahunya. Ia mengangkat bahu, tersenyum tipis, lalu menyalakan kompor kecil untuk membuat kopi. Hidupnya sederhana, tapi keras.

“Kadang saya duduk di sini, menatap rumah ini. Kalau runtuh, ya runtuh. Tidak ada yang bisa saya lakukan,” katanya suatu siang, suara parau tapi tenang. Tidak ada keluhan, hanya kenyataan hidup.

Senin (16/3/2026) itu berbeda. Ada suara sepatu di halaman, sapaan hangat, senyum di wajah manusia.

Kapolsek Belawa, IPTU Awal Syahrani, datang bersama personel Polsek dan Bhayangkari, membawa bantuan. Sembako, beras, minyak, mie instan. Tapi lebih dari itu, mereka membawa perhatian.

“Pak Abidin, kami bawa sedikit bantuan,” kata Kapolsek. Abidin menatap mereka, diam, hanya mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Diamnya itu bercerita lebih banyak daripada kata-kata.

Mereka duduk di kolong rumah, meletakkan kantong-kantong bantuan di samping Abidin. “Ini sedikit, tapi semoga bisa meringankan,” kata Kapolsek. Abidin tersenyum lirih.

“Alhamdulillah,” katanya. Itu saja, tapi cukup menghangatkan hati semua yang hadir.

Abidin bercerita tentang rumahnya dulu. Rumah yang hangat, penuh tawa, keluarga, dan doa. Tahun demi tahun, kayu dimakan usia, atap bocor, hujan merusak.

Ia tetap tinggal di kolong rumah karena tidak punya tempat lain, tapi hatinya tetap tegar.

“Di sini, saya bisa lihat langit. Bisa dengar burung. Itu cukup,” katanya sambil tersenyum tipis. Hanya itu yang ia punya: langit, burung, dan harapan yang sederhana.

Selain Abidin, polisi juga memberikan bantuan kepada Muh Sukri, lansia yang hidup sendiri. Kapolsek menegaskan bahwa kehadiran polisi bukan sekadar penegakan hukum. “Kehadiran kami untuk melihat dan merasakan penderitaan sesama manusia,” katanya. “Kadang orang butuh pelukan, bukan laporan resmi.”

Abidin menatap kantong sembako, menatap Kapolsek, lalu tersenyum. “Terima kasih. Sudah lama saya tidak melihat orang peduli begitu,” katanya. Sunyi. Hanya suara angin menembus celah atap. Tapi jeda itu panjang dan hangat.

Rumah Abidin mungkin rapuh. Tapi ia tetap tegar. Hidup di kolong rumah mengajarkannya kesabaran, keteguhan, dan bersyukur, walau dunia tidak bersahabat.

Ketika Kapolsek dan personel meninggalkan rumah, mereka meninggalkan lebih dari sekadar bantuan. Mereka meninggalkan harapan, sedikit cahaya yang menyinari hari-hari kelam Abidin. Pesan sederhana: Anda tidak sendirian, ada yang peduli.

Di Desa Leppangeng, kolong rumah Abidin menjadi saksi bahwa kepedulian manusia bisa muncul di tempat paling tidak terduga. Rumahnya rapuh, tapi hatinya mulai hangat. Ia tahu, meski dunia tampak runtuh, masih ada tangan yang siap menopang, mata yang siap menatap, dan hati yang peduli.

Abidin hidup di kolong rumah. Tapi kisahnya menembus batas fisik. Ia simbol ketabahan, pengingat bahwa rumah bukan sekadar bangunan, tapi kehadiran manusia lain yang peduli.

Saat malam tiba, ia menatap langit lagi. Rumahnya mungkin masih rapuh. Hidupnya mungkin masih berat. Tapi hatinya, sedikit demi sedikit, mulai terisi kepedulian dan harapan. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.