Tidak semua perpisahan lahir dari mutasi. Ada yang lahir dari luka dan ketabahan yang dipaksa bertahan terlalu lama.
Oleh: Edy Basri
Pagi tadi, Rabu, 15 April 2026, di lapangan apel Polres Sidrap, suasana sudah terasa berbeda sejak barisan pertama berdiri.
Tidak ada teriakan komando yang keras seperti biasanya. Tidak ada suasana kaku seperti apel rutin.
Yang ada justru sesuatu yang sulit dijelaskan.
Hening yang dalam.
Dan di tengah hening itu, satu kursi roda perlahan terlihat di sisi barisan.
Di atasnya duduk Aipda Arwan Rahim.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan. Sang istri. Tidak banyak bicara. Hanya memegang tisu sejak awal.
Seolah ia sudah tahu, hari ini bukan hari biasa.
Hari ini adalah hari di mana suaminya akhirnya mengucapkan sesuatu yang selama ini disimpan rapat-rapat di dada.
Tentang ingin pulang.
Tentang ingin kembali dekat keluarga.
Tentang kelelahan yang tidak terlihat.
Luka yang Tidak Pernah Benar-Benar Sembuh
Sebelum sampai ke momen apel itu, Arwan bukanlah sosok yang asing dengan penderitaan.
Ia pernah berada di titik yang hampir merenggut segalanya.
Tahun 2014 menjadi titik balik hidupnya.
Saat itu ia bertugas sebagai Bhabinkamtibmas. Tugas yang bagi sebagian orang terlihat sederhana, tapi di lapangan sering kali justru paling berat.
Dalam satu perjalanan tugas, ia mengalami kecelakaan.
Bukan kecelakaan biasa.
Cedera kepala berat. Tengkorak retak. Wajah rusak. Hidung patah.
Semuanya terjadi dalam hitungan detik yang mengubah hidupnya selamanya.
Ia harus menjalani operasi berulang kali.
RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar menjadi tempat pertama perjuangan panjang itu dimulai.
Lalu berlanjut ke RS Universitas Hasanuddin Makassar.
Kemudian RS Polda Sulsel.
Dan terakhir di RS Mappaoddang.
Empat rumah sakit. Empat fase hidup yang berbeda.
Namun satu hal yang sama: perjuangan untuk bertahan hidup seperti orang normal.
Namun tubuhnya tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu.
Besi titanium harus menggantikan bagian kepalanya.
Indra penciumannya tidak lagi berfungsi.

Tapi ia tetap berdiri sebagai anggota.
Tetap mengabdi.
Tetap memakai seragam.
Di Balik Seragam, Ada Rasa yang Tidak Pernah Diceritakan
Tidak banyak yang tahu bahwa di balik tugasnya, Arwan menyimpan kelelahan yang tidak pernah ia keluhkan.
Ia tetap datang.
Tetap bertugas.
Tetap tersenyum.
Namun di dalam dirinya, ada satu hal yang terus tumbuh:
rasa ingin pulang.
Bukan karena menyerah.
Tapi karena ingin hidup lebih dekat dengan keluarga yang selama ini hanya bisa ditemui di sela waktu.
Hari Itu, Ia Berani Mengucapkan yang Selama Ini Dipendam
Momen itu datang di ruang yang tidak direncanakan: rumah sakit.
Saat Kapolres Sidrap Fantry Taherong menjenguknya bersama istri, suasana begitu hangat.
Tidak ada jarak antara pimpinan dan anggota.
Tidak ada formalitas.
Yang ada hanya percakapan manusia dengan manusia.
Di situlah Arwan akhirnya memberanikan diri.
Suaranya pelan.
Tapi jelas.
Ia meminta izin.
Ia ingin pindah tugas.
Bukan untuk lari.
Bukan untuk menghindar.
Tapi untuk kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Wajo (Siwa)
Untuk kesehatan.
Untuk masa depan.
Dan untuk keluarga.
Permintaan itu tidak langsung dijawab panjang.
Tapi ada keheningan yang mengerti.
Dan pada akhirnya, izin itu diberikan.
Bukan dengan berat hati.
Tapi dengan pengertian.
Kembali ke Apel: Hari Perpisahan yang Tak Terduga
Hari apel itu akhirnya menjadi panggung perpisahan.
Tapi tidak seperti perpisahan biasa.
Tidak ada sorak.
Tidak ada tepuk tangan berlebihan.
Yang ada hanya suasana yang makin lama makin berat.
Saat nama Arwan dipanggil untuk menyampaikan kesan, ia perlahan didorong ke depan.
Kursi rodanya berhenti di tengah lapangan.
Semua mata tertuju padanya.
Dan di situlah semuanya dimulai.
Bersambung…
