Saat Kapolres Sidrap Menunduk, dan Lapangan Apel Itu Benar-Benar Tidak Lagi Sama

Di lapangan apel Polres Sidrap, suasana sudah tidak bisa lagi disebut formal.

Tidak ada lagi batas antara apel dan perasaan.

Tidak ada lagi garis tegas antara atasan dan bawahan.

Yang tersisa hanya satu hal:

manusia dan kemanusiaan.

Di tengah semua itu, Arwan Rahim masih duduk di kursi roda.

Kepalanya tertunduk.

Tangannya sesekali gemetar kecil.

Di sampingnya, istrinya tetap berdiri.

Tisu di tangannya sudah basah.

Tapi ia tidak pergi.

Ia tetap di situ.

Seperti jangkar yang menahan agar semuanya tidak benar-benar runtuh.

Di depan barisan, Kapolres Sidrap Fantry Taherong akhirnya melangkah sedikit ke depan.

Biasanya seorang pimpinan bicara tegas.

Tegak.

Rapi.

Tapi kali ini tidak.

Ada jeda panjang sebelum ia bicara.

Matanya tidak langsung menatap barisan.

Justru menunduk ke tanah beberapa detik.

Seolah sedang menahan sesuatu yang berat di dadanya.

Lalu ia bicara.

Pelan.

Tidak seperti biasanya.

“Saudara Arwan…”

Suara itu berhenti sebentar.

Ia menarik napas.

“Ini bukan perpisahan biasa…”

Kalimat itu menggantung.

Dan semua orang tahu, ini bukan kalimat seremonial.

Kapolres kemudian melanjutkan.

Ia berbicara tentang pengabdian.

Tentang loyalitas.

Tentang bagaimana seorang anggota tetap bertahan meski tubuhnya sudah tidak sama lagi seperti dulu.

Namun suaranya beberapa kali ikut berubah.

Tidak stabil.

Ada getaran yang tidak bisa disembunyikan.

Di tengah kalimatnya, ia berhenti.

Menatap Arwan.

Lalu menunduk lagi.

Beberapa detik tidak ada suara.

Hanya angin yang lewat di lapangan apel.

“Sehebat apapun pengabdian kita,” lanjut Kapolres, “kalau jauh dari keluarga… kebahagiaan itu tidak lengkap.”

Kalimat itu membuat suasana semakin berat.

Karena bukan hanya Arwan yang merasakannya.

Tapi semua yang mendengar.

Di barisan, beberapa personel sudah tidak lagi mampu menahan diri.

Ada yang mengusap mata cepat-cepat.

Ada yang menunduk lama.

Ada yang diam, tapi bahunya sedikit bergetar.

Kapolres lalu menatap Arwan lebih lama.

Seolah ingin memastikan bahwa pesan yang disampaikan benar-benar sampai.

Lalu ia berkata lebih pelan lagi:

“Pulanglah… dekat dengan keluarga.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi justru di situ letak kekuatannya.

Arwan yang masih di kursi roda kembali menangis.

Kali ini lebih pelan.

Tidak lagi seperti sebelumnya yang pecah keras.

Tapi tangisan yang lelah.

Tangisan yang selesai.

Istrinya langsung meraih tangannya.

Menggenggamnya erat.

Tidak ada kata.

Tapi genggaman itu cukup menjelaskan segalanya.

Acara perlahan mulai ditutup.

Tapi tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula.

Barisan masih berdiri.

Namun hati mereka sudah tidak di tempat yang sama lagi.

Beberapa personel mendekati Arwan setelah apel selesai.

Tidak ada formalitas.

Hanya pelukan singkat.

Tepukan di bahu.

Dan mata yang masih basah.

Kapolres Sidrap juga sempat mendekat.

Tidak banyak kata.

Hanya anggukan pelan.

Dan pandangan lama ke arah Arwan.

Seolah ingin mengingat momen itu selamanya.

Arwan kemudian perlahan didorong keluar dari lapangan apel.

Kursi rodanya bergerak pelan.

Istrinya tetap di samping.

Tidak pernah lepas.

Di belakangnya, lapangan apel kembali sunyi.

Tapi sunyi kali ini berbeda.

Bukan sunyi biasa.

Tapi sunyi yang menyisakan sesuatu di dada.

Hari itu, Sidrap tidak hanya melepas seorang anggota Polres Sidrap.

Ia melepas sebuah cerita panjang tentang luka, keteguhan, dan pengabdian yang tidak pernah sempurna tapi selalu tulus.

Seorang Bhayangkara di kursi roda.

Arwan Rahim.

Yang akhirnya berani berkata jujur di depan semua orang:

bahwa ia hanya ingin pulang.

Dekat keluarga.

Dan itu cukup untuk membuat seluruh lapangan apel itu… diam seribu bahasa. (edybasri-habis)

Pemimpin Redaksi
Mengawal kualitas, arah pemberitaan, dan independensi redaksi