Kursi Roda di Tengah Lapangan, Saat Suara Arwan Rahim Mulai Patah Berkali-kali
Suara di lapangan apel Polres Sidrap itu perlahan berubah.
Bukan lagi suara formal apel.
Bukan lagi suara komando.
Tapi suara manusia yang sedang berjuang menahan sesuatu yang lebih berat dari sekadar kata-kata.
Di depan barisan, Arwan Rahim duduk di kursi roda.
Tubuhnya tidak banyak bergerak.
Tapi dadanya naik turun pelan.
Seolah sedang menahan sesuatu yang sudah lama dipendam.
Di sampingnya, istrinya tetap berdiri.
Tidak bergeser sedikit pun.
Tangannya sudah dari tadi menggenggam tisu.
Dan itu bukan tisu pertama.
Sudah beberapa lembar habis sejak Arwan mulai disiapkan untuk berbicara.
Saat mikrofon diberikan kepadanya, suasana langsung berubah.
Tidak ada suara lain.
Tidak ada bisik-bisik.

Semua menunggu.
Arwan menatap ke depan.
Barisan personel.
Para perwira.
Dan Kapolres Sidrap Fantry Taherong yang berdiri beberapa meter di depannya.
Lalu ia mulai bicara.
“Assalamualaikum…”
Hanya itu yang terdengar jelas di awal.
Setelah itu, suaranya langsung pecah.
Ia berhenti.
Menunduk.
Dan menangis.
Bukan tangisan kecil.
Tapi tangisan yang tertahan lama.
Tangisan seseorang yang tidak hanya sedang berbicara—tapi sedang mengingat seluruh hidupnya.
Istrinya langsung bergerak.
Pelan.
Mendekat sedikit.
Mengusap wajah Arwan.
Memberikan tisu.
Lalu kembali berdiri di posisi semula.
Tanpa kata.
Tapi cukup untuk menenangkan sedikit.
Arwan menarik napas panjang.
Lalu mencoba lagi.
“Terima kasih kepada pimpinan… kepada semua rekan…”
Kalimat itu belum selesai.
Suara itu patah lagi.
Ia berhenti lagi.
Menangis lagi.
Di barisan belakang, beberapa personel mulai menunduk.
Ada yang mengusap mata.
Ada yang memalingkan wajah.
Ada yang berdiri kaku, tapi matanya tidak bisa berbohong.
Suasana apel berubah.
Ini bukan lagi seremonial.
Ini sudah menjadi ruang perasaan.
Arwan mencoba lagi.
Kali ini lebih pelan.
Lebih hati-hati.
“Saya… tidak menyangka…”
Kalimat itu berhenti di tengah.
Air matanya jatuh lagi.
Beberapa detik ia diam.
Hanya suara angin yang terdengar.
Lalu, perlahan, ia melanjutkan.
Ia bercerita tentang perjalanan panjangnya.
Tentang sakit.
Tentang operasi.
Tentang hari-hari di rumah sakit.
Namun setiap menyebut masa itu, suaranya kembali patah.
Seolah luka itu tidak pernah benar-benar sembuh, meski tubuhnya sudah mencoba berdiri kembali.
Di titik itu, istrinya tidak lagi hanya berdiri.
Ia beberapa kali mengusap wajah Arwan.
Mengangkat kepalanya pelan agar ia kembali menatap ke depan.
Memberikan tisu.
Lalu kembali diam.
Seperti penjaga yang tidak ingin suaminya jatuh lebih dalam di hadapan banyak orang.
Arwan kemudian sampai pada kalimat yang paling sulit.
Kalimat yang selama ini ia simpan.
“Saya… sebenarnya sudah lama ingin menyampaikan…”
Ia berhenti.
Lama.
Sangat lama.
Semua orang menunggu.
Bahkan udara terasa ikut menahan napas.
Lalu akhirnya keluar.
“Saya ingin pindah tugas…”
Suara itu tidak keras.
Tapi jelas.
Dan setelah kalimat itu, ia menangis lagi.
Lebih dalam.
Lebih lama.
Beberapa personel di barisan depan terlihat langsung menunduk.
Ada yang menahan napas.
Ada yang menelan ludah.
Karena kalimat itu bukan sekadar permintaan mutasi.
Tapi pengakuan dari seorang anggota yang sudah bertahun-tahun bertahan dalam keterbatasan.
Arwan melanjutkan dengan suara yang semakin melemah.
“Saya ingin dekat dengan keluarga…”
Kalimat itu membuat suasana benar-benar pecah.
Tidak ada lagi yang pura-pura kuat.
Bahkan di sisi depan, beberapa personel terlihat menyeka air mata secara diam-diam.
Kapolres Sidrap, Fantry Taherong, menunduk.
Matanya terlihat berkaca-kaca.
Tangannya sesekali bergerak kecil, seperti menahan emosi.
Arwan menutup kalimatnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Tolong maafkan saya…”
Dan setelah itu ia tidak bisa melanjutkan lagi.
Kepalanya menunduk.
Tangisnya tidak lagi ditahan.
Istrinya langsung memegang bahunya.
Mengusap punggungnya.
Memberikan tisu lagi.
Tapi kali ini tidak ada lagi kata-kata.
Karena kata-kata sudah tidak cukup.
Di lapangan apel itu, tidak ada lagi jarak antara pangkat dan perasaan.
Tidak ada lagi formalitas.
Yang ada hanya seorang manusia di kursi roda.
Yang akhirnya berani mengatakan:
bahwa ia ingin pulang.
Bersambung…
