Wajo, katasulsel.com — Angka mulai bicara. 1.304 kasus suspek campak tercatat di Sulawesi Selatan. Dari jumlah itu, 169 sudah terkonfirmasi positif. Wajo masuk dalam peta kewaspadaan.

Statusnya memang masih “suspek KLB”. Belum final. Data masih diverifikasi. Tapi pemerintah daerah tidak mau menunggu situasi membesar.

Dinas Kesehatan Wajo langsung “gas cepat”. Program Outbreak Response Immunization (ORI) digelar. Sasarannya jelas: anak-anak yang paling rentan.

“Ini langkah cepat untuk menekan potensi penyebaran, khususnya pada kelompok anak,” kata Kepala Dinas Kesehatan Wajo, Armin.

Di lapangan, ORI bukan sekadar program formal. Ini jadi “tameng awal” sebelum wabah benar-benar meluas. Fokusnya pada anak usia 9 hingga 59 bulan—kelompok yang paling berisiko tertular.

Wajo bukan satu-satunya. Data Dinas Kesehatan Sulsel menyebut beberapa daerah lain juga masuk radar, seperti Makassar, Sinjai, dan Luwu. Artinya, situasi ini bukan kasus lokal semata.

Meski begitu, Armin menegaskan status di Wajo masih dalam tahap pemantauan. Distribusi kasus per kecamatan masih dihitung. Validasi terus berjalan.

Namun prinsipnya sederhana: lebih baik mencegah lebih awal daripada terlambat.

Karena itu, selain ORI, edukasi ke masyarakat juga digenjot. Orang tua diminta tidak menunda imunisasi anak. Kontak dengan penderita campak juga harus dihindari.

Di sisi layanan, Dinkes memastikan vaksin tersedia. Puskesmas disiapkan. Akses dibuka. Dan yang paling penting—gratis.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan nasional. Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan memang tengah memperkuat ORI di berbagai daerah, menyusul meningkatnya kasus campak di sejumlah wilayah.

Di tengah situasi ini, satu hal jadi kunci: kecepatan respon.

Karena dalam kasus penyakit menular, jeda waktu bisa berarti perbedaan antara terkendali atau meluas.

Wajo memilih bergerak lebih dulu. Tinggal bagaimana masyarakat ikut bergerak bersama.

Merangkai data dan peristiwa menjadi narasi yang hidup dan informatif