Samarinda, katasulsel.com — Ada yang menarik dari malam di GOR Segiri, Samarinda, Sabtu (6/6/2026). Bukan hanya soal seremoni pelantikan organisasi, tetapi tentang bagaimana identitas daerah bisa tetap hidup jauh dari kampung halaman.

Bupati Wajo, Andi Rosman, hadir langsung dalam Pengukuhan dan Pelantikan Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Wajo (BPW KKW) Kalimantan Timur. Di tengah riuhnya acara dan hangatnya pertemuan perantau, satu hal terasa kuat: Wajo tidak pernah benar-benar jauh dari warganya.

Didampingi Ketua TP PKK Wajo, Fatmawati Amin, Andi Rosman disambut oleh pengurus dan masyarakat Wajo yang telah lama menetap di Kalimantan Timur. Bagi banyak perantau, momen seperti ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi “kandang pulang” rasa rindu.

Di tribun GOR Segiri malam itu, bahasa Bugis Wajo terdengar bersahutan, bercampur dengan dialek perantauan yang sudah lama beradaptasi. Namun ada satu benang merah yang tidak berubah: rasa kebersamaan.

Dalam sambutannya, Andi Rosman tidak sekadar berbicara sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar Wajo yang tersebar di banyak tempat.

Ia memberi apresiasi kepada Kerukunan Keluarga Wajo yang dinilai tetap menjadi “ruang hangat” bagi warga perantauan untuk menjaga identitas, budaya, dan rasa saling memiliki.

“Kerukunan Keluarga Wajo memiliki peran strategis dalam mempererat persaudaraan dan menjaga nilai-nilai budaya Bugis Wajo,” ujarnya.

Namun lebih dari itu, yang ditekankan bukan hanya soal organisasi, melainkan soal “ikatan tak terlihat” yang membuat orang Wajo tetap merasa satu meski terpisah jarak ribuan kilometer.

Di sela sambutan, nilai-nilai lama kembali dihidupkan. Filosofi Bugis Wajo seperti rebba sipatokkong, mali siparappe, malilu sipakainge kembali disebut—bukan sekadar kalimat adat, tetapi seperti “kode etik sosial” yang terus relevan di tanah rantau.

Saling menopang ketika jatuh.

Saling membantu saat terombang-ambing.

Saling mengingatkan ketika mulai lupa arah.

Di dunia perantauan yang serba cepat dan individualistis, nilai-nilai itu seperti jangkar yang menahan agar identitas tidak hanyut.

Pelantikan BPW KKW Kaltim sendiri berlangsung khidmat, namun juga penuh warna budaya. Tari-tarian Sulawesi membuka acara, disusul prosesi pengukuhan pengurus baru yang disambut tepuk tangan hangat para hadirin.

Bagi sebagian peserta, ini bukan hanya pelantikan organisasi, tetapi semacam “reuni besar” yang mempertemukan kembali orang-orang satu daerah dalam satu ruang.

Sejumlah tokoh turut hadir, mulai dari pengurus pusat Kerukunan Keluarga Wajo, Wali Kota Samarinda, Gubernur Kalimantan Timur, hingga Sultan Kutai Kartanegara, menjadikan malam itu bukan sekadar agenda daerah, tetapi pertemuan lintas jejaring yang lebih luas.

Di akhir sambutan, Andi Rosman menegaskan harapannya agar organisasi ini tidak berhenti pada simbol kebersamaan, tetapi benar-benar menjadi ruang kontribusi.

“Jadikan ini wadah untuk berkontribusi di daerah perantauan, sekaligus memberi dampak bagi tanah kelahiran,” katanya.

Namun di balik kalimat formal itu, tersirat satu pesan yang lebih dalam: bahwa menjadi perantau bukan berarti melepaskan akar, tetapi justru memperluas cabang.

Dan malam itu di Samarinda, Wajo sedang menunjukkan satu hal sederhana namun kuat—bahwa kampung halaman tidak selalu soal tempat, tetapi tentang siapa yang masih mau saling menjaga, meski sudah jauh dari rumah.(*)