WAJO, Katasulsel.com — Di saat banyak daerah masih berjuang menjaga stabilitas administrasi keuangan, Kabupaten Wajo justru melangkah dalam jalur yang nyaris konsisten tanpa jeda.
Daerah ini kembali mencatat capaian penting: 15 kali berturut-turut meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI Perwakilan Sulawesi Selatan.
Di balik angka yang terdengar teknis itu, tersimpan cerita yang lebih dalam daripada sekadar laporan audit tahunan. WTP di Wajo tidak lagi dipandang sebagai seremoni administratif, melainkan sebagai “ritme kerja” yang terus dipertahankan dari tahun ke tahun.
Bagi auditor negara, opini WTP diberikan ketika laporan keuangan pemerintah daerah dinilai memenuhi empat unsur utama: kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, sistem pengendalian internal yang efektif, kepatuhan terhadap regulasi, serta pengungkapan yang memadai. Empat hal ini menjadi fondasi yang tidak bisa dinegosiasikan.
Namun capaian Wajo yang sudah mencapai 15 kali berturut-turut memperlihatkan sesuatu yang lebih sulit dibangun: konsistensi sistem. Bukan sekadar keberhasilan satu tahun anggaran, tetapi kemampuan menjaga kualitas pengelolaan lintas waktu dan lintas kebijakan.
Di banyak daerah, perubahan pejabat, dinamika politik, hingga rotasi birokrasi kerap menjadi titik rawan turunnya kualitas administrasi. Tetapi di Wajo, pola yang terbentuk justru sebaliknya—sistem berjalan seperti mesin yang dirawat, bukan sekadar digerakkan.
Sejumlah pengamat tata kelola menilai, keberlanjutan seperti ini biasanya lahir dari tiga lapis kekuatan: disiplin perencanaan anggaran, pengawasan internal yang aktif, serta budaya kerja birokrasi yang tidak bergantung pada figur semata.
Meski demikian, WTP bukanlah garis akhir. Ia lebih tepat disebut “indikator ketertiban administrasi”, bukan ukuran tunggal keberhasilan pembangunan. Namun dalam praktik pemerintahan daerah, konsistensi WTP tetap menjadi sinyal bahwa mesin birokrasi berjalan pada rel yang relatif stabil.
Dengan capaian ke-15 kalinya ini, Wajo kembali masuk dalam kelompok daerah yang mampu menjaga ritme tersebut tanpa putus—sebuah capaian yang lebih sulit dijaga daripada diraih pertama kali.
Di balik angka-angka laporan keuangan itu, ada satu kesimpulan yang perlahan menguat: tata kelola yang kuat bukan soal momen kemenangan, tetapi soal kemampuan bertahan dalam keteraturan. (*)
