KADANG sebuah peradaban tidak dimulai dengan dentuman. Tapi dengan perpindahan.
Itulah 1 Muharram.
Judulnya sengaja saya buat pendek. Berharap ada yang penasaran, mau membacanya.
Kembali ke laptop.
1 Muharram ini, lahir dari satu peristiwa yang sederhana kalau dilihat dari luar, tapi dalamnya sangat dalam: hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi.
Orang sering menyebutnya hijrah. Tapi sesungguhnya itu bukan sekadar pindah tempat. Itu pindah nasib.
Dari tekanan yang tidak lagi memberi ruang bernapas, ke sebuah kota yang kelak menjadi fondasi peradaban baru.
Tidak semua perubahan besar terdengar besar saat terjadi.
Kadang justru tampak seperti pelarian.
Tapi sejarah tidak menilai dari tampilan awal. Ia menilai dari dampaknya.
Beberapa waktu kemudian, umat Islam sudah menjadi komunitas yang meluas. Administrasi mulai tidak sederhana. Surat-surat datang dari pusat kekuasaan, tapi ada yang janggal: tidak ada tahun.
Di masa Umar bin Khattab, persoalan ini naik ke meja negara. Negara yang mulai besar, ternyata bisa kacau hanya karena satu hal kecil: waktu tidak tertulis dengan rapi.
Lalu ada cerita kecil yang sering menentukan arah besar sejarah. Seorang pejabat, Abu Musa Al-Asy’ari, kebingungan membaca surat-surat resmi. Tidak ada penanda tahun. Tidak ada “kapan”.
Dari situ muncul kebutuhan yang sederhana: kita perlu kalender.
Tapi umat ini tidak memilih yang paling mudah. Mereka memilih yang paling bermakna.
Awal tahun tidak diambil dari kelahiran. Tidak juga dari kemenangan. Tapi dari hijrah.
Karena di situlah titik balik itu terjadi. Dari yang lemah menjadi kuat. Dari tertekan menjadi berdaulat. Dari bertahan menjadi membangun.
Lalu mengapa Muharram?
Jawabannya tidak rumit. Tapi justru sering terlewat.
Muharram sudah lama dikenal sebagai bulan suci sejak sebelum Islam. Bulan di mana perang dihentikan. Bulan di mana darah tidak boleh tumpah.
Nama “Muharram” sendiri berarti yang diharamkan. Ada batas yang disepakati bahkan oleh masyarakat sebelum wahyu turun: jangan perang di bulan ini.
Seolah-olah alam sosial waktu itu sudah memberi ruang untuk jeda. Untuk diam. Untuk memulai ulang.
Dan mungkin di situlah keindahannya.
Kalender Islam tidak dimulai dari kegembiraan.
Ia dimulai dari perpindahan.
Dari keputusan sulit.
Dari langkah yang tidak nyaman.
Tapi justru dari situlah waktu baru lahir.
Dan sampai hari ini, 1 Muharram hanya mengingatkan satu hal sederhana: bahwa setiap orang, setiap umat, selalu punya kesempatan untuk memulai ulang hidupnya—kalau berani hijrah. (edy)
