Oleh: Nabil Pratama Nusantara
Belakangan ini, lulusan Sosiologi kerap dipandang sebagai lulusan yang minim peluang kerja. Anggapan tersebut bahkan turut muncul di media sosial. Salah satunya melalui konten kreator Instagram dengan nama pengguna @elelcapo yang dalam salah satu unggahannya menyebut bahwa “jurusan Sosiologi sulit mendapatkan pekerjaan”. Pernyataan tersebut kemudian dilanjutkan dengan kalimat, “saya belum kerja, rencananya sih mau ngambil S2 Sosiologi.”
Kalimat terakhir tentu dapat dipahami sebagai satire atau komedi mengenai realitas lulusan Sosiologi. Tidak ada yang salah dengan unggahan tersebut. Namun, konten semacam ini dapat menjadi salah satu gambaran empiris mengenai adanya anggapan di ruang publik bahwa Sosiologi merupakan program studi dengan peluang kerja yang minim.
Stigma tersebut menarik untuk dilihat dari cara kita memahami pendidikan tinggi sekaligus mengukur keberhasilan sebuah program studi. Sering kali, prospek sebuah jurusan diukur berdasarkan seberapa langsung kompetensi yang diperoleh dapat diterapkan pada kebutuhan industri. Jurusan yang memiliki hubungan jelas dengan profesi tertentu lebih mudah dianggap memiliki prospek. Sebaliknya, jurusan yang jalur kariernya tidak linear kerap dipersepsikan kurang menjanjikan.
Ukuran semacam ini relevan bagi program studi terapan atau vokasional yang memang berorientasi pada penguasaan keterampilan teknis dan kesiapan memasuki bidang pekerjaan tertentu. Namun, ukuran tersebut tidak dapat begitu saja diterapkan kepada seluruh bidang keilmuan, termasuk Sosiologi, yang memiliki karakter pendidikan berbeda.
Sosiologi tidak semata-mata diarahkan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan teknis bagi satu jenis pekerjaan tertentu. Studi Sosiologi membangun kemampuan berpikir kritis, memahami gejala sosial, membaca hubungan antarmanusia, serta melakukan analisis secara sistematis.
Lalu, apakah itu berarti lulusan Sosiologi tidak mampu masuk dan bersaing di dunia industri?
Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.
Secara empiris, tidak sedikit alumni Sosiologi yang mampu masuk dan bersaing di dunia industri. Alumni Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), misalnya, dapat ditemukan bekerja di bidang manajemen retail dan bisnis, hubungan masyarakat, community development atau CSR, hingga sumber daya manusia (HRD) dan talent acquisition. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemampuan yang dibangun melalui studi Sosiologi tetap memiliki relevansi dalam dunia kerja, termasuk di lingkungan korporasi.
Relevansi tersebut dapat dilihat dari karakter pekerjaan yang dijalankan. Bidang sumber daya manusia, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan administrasi kepegawaian, tetapi juga berhadapan dengan relasi antarmanusia dan dinamika organisasi. Talent acquisition membutuhkan kemampuan memahami karakter serta kebutuhan tenaga kerja. Dalam community development dan CSR, pemahaman mengenai kondisi sosial masyarakat menjadi bagian penting dalam menentukan pendekatan program. Sementara itu, hubungan masyarakat menuntut kemampuan membaca karakter kelompok dan membangun komunikasi dengan berbagai pihak.
Artinya, kompetensi Sosiologi tidak selalu hadir dalam pekerjaan dengan label “Sosiologi”. Ia dapat bekerja di balik berbagai profesi yang berhadapan dengan manusia, kelompok, organisasi, dan perubahan sosial.
Hal ini dapat dipahami karena objek kajian Sosiologi sangat luas. Sosiologi mempelajari masyarakat, hubungan sosial, kelompok, institusi, konflik, perubahan, hingga berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sosial. Kemampuan memahami manusia dan lingkungan sosial tersebut dapat menjadi modal dalam berbagai jenis pekerjaan yang membutuhkan kemampuan analisis, komunikasi, pemetaan sosial, riset, maupun pengelolaan hubungan antarmanusia.
Namun, mengatakan bahwa lulusan Sosiologi dapat bekerja “di mana saja” juga merupakan sebuah overclaim. Tidak semua pekerjaan dapat dimasuki secara linear hanya karena seseorang memiliki latar belakang Sosiologi. Setiap pekerjaan tetap memiliki persyaratan kompetensi, pengalaman, dan keterampilan yang berbeda.
Karena itu, lulusan Sosiologi tidak secara otomatis dapat mengisi semua posisi pekerjaan. Yang lebih tepat adalah bahwa Sosiologi memberikan fondasi pengetahuan dan kemampuan yang dapat dikembangkan serta diterjemahkan ke dalam berbagai konteks pekerjaan.
Di sinilah pentingnya memahami kembali apa sebenarnya yang dipelajari dalam Sosiologi. Menurut pemikiran Prof. Dr. Selo Soemardjan, yang dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia, perhatian utama Sosiologi berkaitan dengan struktur sosial, proses sosial, dan perubahan sosial. Ketiganya bukan sekadar konsep yang berhenti di ruang kelas.
Struktur sosial membantu memahami bagaimana masyarakat tersusun dan bagaimana posisi sosial terbentuk. Proses sosial membantu membaca bagaimana individu dan kelompok berinteraksi. Sementara itu, perubahan sosial memungkinkan kita memahami bagaimana masyarakat bergerak, beradaptasi, dan mengalami transformasi.
Kemampuan tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh peneliti atau akademisi. Organisasi, perusahaan, lembaga pemerintah, maupun lembaga sosial sama-sama berhadapan dengan manusia dan dinamika sosial. Mereka membutuhkan orang yang mampu membaca karakter kelompok, memahami pola hubungan, mengenali persoalan, mengolah informasi, serta melihat perubahan yang terjadi di lingkungan sosialnya.
Maka, ketika lulusan Sosiologi masuk ke dunia kerja dengan jalur yang berbeda-beda, mungkin yang perlu dilihat bukan semata-mata nama pekerjaannya. Ada proses menerjemahkan pengetahuan tentang masyarakat menjadi kemampuan yang dapat digunakan dalam organisasi, perusahaan, lembaga, maupun komunitas.
Seorang lulusan Sosiologi tidak selalu membawa gelarnya sebagai nama jabatan. Ia membawa cara melihat: membaca relasi, mengenali pola, memahami posisi sosial, mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa, dan melihat perubahan yang sedang berlangsung.
Barangkali karena itu, pertanyaan tentang Sosiologi tidak harus selalu berhenti pada “setelah lulus bisa kerja sebagai apa?”
Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apa yang membuat seseorang mampu memahami manusia dan masyarakat ketika ia masuk ke dalam dunia kerja?
(*)
