Oleh: Syamsuddin. MS
Sekretaris Umum Koni Sidrap 2025-2029

OLAHRAGA tidak pernah hanya soal menang atau kalah. Di balik setiap medali, ada sistem yang bekerja. Ada organisasi yang sehat, pembinaan yang berkelanjutan, pelatih yang konsisten, dukungan pemerintah yang kuat, serta kepercayaan publik yang terjaga.

Karena itu, pelantikan dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) Tahun 2026 tidak layak dipandang sebagai agenda seremonial belaka. Momentum yang akan berlangsung di Aula Saromase pada 10 Agustus 2026 tersebut sesungguhnya menjadi titik penting untuk menentukan arah masa depan olahraga prestasi di Bumi Nene Mallomo.

Tema yang diusung, β€œKONI Sidrap Bangkit Berprestasi”, mengandung pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar target perolehan medali. Kata bangkit menunjukkan adanya kesadaran bahwa organisasi olahraga membutuhkan energi baru, pembenahan baru, dan cara kerja baru. Sedangkan kata berprestasi menegaskan bahwa seluruh pembenahan itu harus bermuara pada hasil yang nyata.

Prestasi tidak lahir dari ruang kosong. Ia merupakan buah dari perencanaan yang matang, tata kelola yang baik, dan komitmen yang dijaga dalam jangka panjang.

Di sinilah tantangan utama KONI Sidrap ke depan.

Organisasi ini harus mampu membangun kembali kepercayaan. Bukan hanya kepercayaan pemerintah daerah sebagai mitra strategis, tetapi juga kepercayaan para atlet, pelatih, pengurus cabang olahraga, serta masyarakat yang selama ini menaruh harapan besar terhadap kemajuan olahraga daerah.

Kepercayaan adalah modal yang sering kali lebih mahal daripada anggaran. Ketika kepercayaan tumbuh, kolaborasi akan mudah dibangun. Ketika kepercayaan menguat, dukungan akan datang dengan sendirinya. Sebaliknya, tanpa kepercayaan, program sebaik apa pun akan sulit bergerak.

Karena itu, konsolidasi organisasi yang sedang dilakukan menjelang pelantikan dan Rakerda merupakan langkah yang tepat. Namun konsolidasi tidak boleh berhenti pada pembentukan kepanitiaan atau penyusunan agenda kegiatan. Konsolidasi harus menyentuh substansi yang lebih dalam, yakni memperkuat hubungan antara KONI dan seluruh cabang olahraga.

Selama ini, banyak organisasi olahraga di berbagai daerah terjebak dalam pola kerja yang administratif. Pertemuan berlangsung rutin, laporan tersusun rapi, tetapi pembinaan atlet berjalan seadanya. Akibatnya, organisasi terlihat aktif, namun prestasi tidak berkembang.

Sidrap tidak boleh terjebak dalam situasi seperti itu.

KONI harus menjadi rumah besar yang nyaman bagi seluruh cabang olahraga. Ruang dialog harus dibuka selebar-lebarnya. Komunikasi harus berlangsung dua arah. Setiap cabang olahraga perlu merasa didengar, diperhatikan, dan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

Rakerda 2026 menjadi kesempatan strategis untuk mewujudkan hal tersebut.

Forum ini harus menjadi ruang evaluasi yang jujur. Apa yang berhasil perlu dipertahankan. Apa yang belum berhasil harus diperbaiki. Tidak ada organisasi yang maju jika terlalu sibuk mencari pembenaran atas kekurangan yang ada.

Rakerda juga harus mampu memetakan persoalan olahraga Sidrap secara objektif. Mulai dari pembinaan atlet usia dini, peningkatan kapasitas pelatih, keterbatasan sarana dan prasarana, minimnya kompetisi berjenjang, hingga kebutuhan pengembangan sumber daya manusia olahraga.

Lebih dari itu, Rakerda tahun ini memiliki nilai strategis karena berlangsung menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Selatan XVIII yang akan digelar di Kabupaten Wajo dan Bone pada Oktober 2026.

Porprov bukan sekadar ajang kompetisi empat tahunan. Ia adalah panggung untuk mengukur kualitas pembinaan olahraga daerah. Di arena itulah hasil kerja bertahun-tahun akan diuji.

Karena itu, Sidrap membutuhkan konsep yang jelas, strategi yang terukur, serta target yang realistis. Ambisi tentu penting, tetapi harus dibangun di atas data, potensi, dan kesiapan yang nyata. Cabang olahraga unggulan harus mendapat perhatian khusus, sementara cabang yang sedang berkembang perlu diberikan ruang untuk tumbuh.

Sudah saatnya pembinaan olahraga di Sidrap bergerak dengan pendekatan yang lebih profesional. Basis data atlet harus diperkuat. Program latihan harus berbasis evaluasi. Sistem penghargaan terhadap atlet dan pelatih harus lebih terukur. Regenerasi atlet harus menjadi agenda utama, bukan pekerjaan yang baru diingat menjelang kompetisi.

Pada akhirnya, keberhasilan KONI tidak akan diukur dari seberapa meriah pelantikan berlangsung atau seberapa banyak program kerja yang tertulis dalam dokumen Rakerda. Keberhasilan sesungguhnya akan terlihat dari lahirnya atlet-atlet baru, meningkatnya prestasi cabang olahraga, tumbuhnya semangat kompetisi, serta menguatnya kebanggaan masyarakat terhadap olahraga daerahnya.

Pelantikan dan Rakerda 2026 harus menjadi awal dari babak baru olahraga Sidrap. Sebuah momentum untuk memperkuat fondasi organisasi, mempererat kebersamaan, dan meneguhkan komitmen bahwa olahraga daerah hanya bisa maju jika seluruh pemangku kepentingan bergerak dalam satu irama.

Dengan semangat Saromase Sidenreng Rappang, kebangkitan olahraga Sidrap tidak boleh berhenti pada slogan. Ia harus diwujudkan dalam kerja nyata, langkah terukur, dan prestasi yang dapat dibanggakan bersama.

Karena pada akhirnya, medali hanyalah hasil. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan membangun sistem yang mampu melahirkan prestasi secara berkelanjutan. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini