Oleh: Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan

Buku belum sempat dibahas, tapi judul sudah lebih dulu ramai dibicarakan.

Memburu Muhammad, kumpulan cerpen karya Feby Indirani, sedianya menjadi bahan diskusi dalam Pekan Sastra Bogor 2026 pada 20 September. Namun, forum itu batal setelah kelompok yang mengatasnamakan Front Persaudaraan Islam (FPI) mempersoalkan judul buku dan tema diskusi serta mengancam mengerahkan massa. Panitia kemudian mengganti sesi tersebut dengan diskusi novel Ajengan Anjing karya Ridwan Malik.

Belum selesai soal pembatalan diskusi, polemik kembali bergulir. Polda Metro Jaya menyatakan sedang mendalami dugaan penistaan agama yang dikaitkan dengan buku tersebut. Artinya, perkara itu masih dalam tahap pendalaman, bukan kesimpulan bahwa buku tersebut terbukti melakukan penistaan agama.

Kementerian Agama juga ikut merespons. Kemenag menyebut materi buku tersebut sensitif dan berpotensi menimbulkan kegaduhan serta menyinggung keyakinan umat. Kemenag sekaligus mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi perlu berjalan bersama tanggung jawab dan penghormatan terhadap keyakinan.

Tapi, sebenarnya apa yang diburu dalam Memburu Muhammad?

Nah, di sinilah ceritanya mulai menarik.

Bukan Sekadar Judul yang Bikin Ribut

Memburu Muhammad bukan buku yang lahir kemarin sore gara-gara kontroversi.

Buku ini merupakan kumpulan 19 cerpen dan menjadi buku kedua dalam trilogi “Islamisme Magis” karya Feby Indirani, setelah Bukan Perawan Maria. Cerita-ceritanya membawa persoalan kehidupan beragama sehari-hari ke dalam humor, ironi, dan unsur magis.

Salah satu cerpen di dalamnya berjudul sama dengan bukunya: “Memburu Muhammad”.

Tokohnya Abu Jahal.

Ia datang ke Indonesia masa kini untuk mencari Muhammad. Pencarian itu bahkan membawanya ke kantor kelurahan. Di sana, ia menemukan banyak orang bernama Muhammad.

Masalahnya, Muhammad-Muhammad yang ditemuinya tidak otomatis memiliki perilaku seperti sosok Muhammad yang sedang ia cari.

Di situlah permainan ceritanya berjalan.

Nama ada.

Orangnya ada.

Tapi keteladanannya?

Nah, itu yang kemudian dipertanyakan.

Sejumlah kajian terhadap cerpen tersebut juga membaca kisahnya sebagai kritik terhadap praktik keberagamaan masyarakat Muslim melalui satire, humor, ironi, dan persoalan jarak antara nilai keagamaan dengan kehidupan sehari-hari.

Jadi, kalau baru melihat dua kata di sampul, memang ada bagian cerita yang belum kelihatan.

Terus, Kenapa Tetap Dipersoalkan?

Karena pembaca tidak selalu masuk dari pintu yang sama.

Ada yang membaca Memburu Muhammad sebagai satire. Ada yang menangkap kritik terhadap orang-orang yang menyandang nama Muhammad tetapi perilakunya jauh dari keteladanan Rasulullah.

Namun, ada pula pembaca yang tetap merasa judul dan ilustrasi sampulnya terlalu provokatif.

Bahkan ada pembaca yang menilai isi bukunya bagus, tetapi pilihan judul dan visual sampulnya tetap terasa kurang tepat.

Ini bagian yang sering hilang dalam perdebatan.

Memahami isi buku tidak otomatis membuat semua orang harus sepakat dengan judulnya.

Sebaliknya, keberatan terhadap judul juga tidak otomatis berarti seseorang sudah menolak seluruh isi bukunya.

Apalagi kata memburu sendiri sebenarnya tidak selalu bermakna negatif. Kita mengenal istilah “memburu ilmu”, “memburu prestasi”, atau “memburu target”.

Yang membuatnya sensitif adalah ketika kata tersebut dipasangkan dengan Muhammad, nama yang bagi umat Islam sangat lekat dengan sosok Nabi Muhammad.

Jadi persoalannya bukan sekadar, “Memburu itu kata negatif atau bukan?”

Konteksnya lebih rumit.

Kata yang biasa saja bisa menjadi sensitif ketika bertemu dengan simbol yang sangat sakral bagi pembacanya.

Buku Dibaca, Judul Tetap Dibaca

Di zaman media sosial, orang sering bertemu dengan buku sebelum bertemu dengan isinya.

Yang muncul lebih dulu adalah judul.

Kemudian sampul.

Lalu potongan komentar.

Baru kalau tertarik, orang membuka halaman demi halaman.

Itulah sebabnya perdebatan tentang Memburu Muhammad tidak cukup diselesaikan dengan kalimat “baca dulu bukunya”.

Membaca tentu penting. Dari sana pembaca bisa memahami cerita, satire, maksud adegan, dan konteks yang mungkin hilang ketika sebuah judul berdiri sendirian.

Tetapi setelah membaca pun, seseorang tetap bisa mempunyai keberatan terhadap pilihan judul atau sampul.

Itu bagian dari pengalaman membaca.

Di sisi lain, orang yang membaca judul lalu langsung menyimpulkan seluruh isi buku juga belum tentu mendapatkan gambaran utuh.

Judul bukan seluruh buku. Tapi judul juga bukan sesuatu yang bisa dipisahkan begitu saja dari buku.

Dan mungkin di situlah letak menariknya polemik Memburu Muhammad.

Buku yang sedianya dibicarakan dalam ruang sastra justru tidak jadi dibahas. Ceritanya tentang pencarian Muhammad, tetapi perdebatan publik malah lebih dulu sibuk mencari makna di balik dua kata pada sampulnya.

Diskusinya batal.

Bukunya tetap ada.

Dan sekarang, orang bukan cuma bertanya “Apa isi Memburu Muhammad?”, tetapi juga “Kenapa judul itu harus Memburu Muhammad?”

Barangkali, dua pertanyaan itulah yang justru membuat buku ini belum selesai dibicarakan.(*)