Oleh: Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan

Saya bukan orang Pekalongan. Saya tidak berada di Simbang Kulon ketika karnaval itu berlangsung. Saya tidak melihat persiapannya, tidak menyaksikan pertunjukannya secara utuh, dan tidak berbicara langsung dengan orang-orang yang terlibat.

Saya mengenalnya dari layar ponsel.

Potongan-potongan video yang saya lihat memperlihatkan sosok menyeramkan, adegan dengan kambing dan darah, kostum bertanduk, serta sejumlah properti pertunjukan. Setelah itu, saya membaca berbagai pemberitaan tentang Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026.

Dari sana, saya menemukan dua cerita.

Cerita pertama adalah tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. SKNC berlangsung di Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, pada 10 September 2026. Karnaval tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan tahunan yang juga diisi pengajian umum dan khitanan massal ke-61. Tahun ini, panitia menyebut 25 barisan dari 25 musala tampil dengan beragam kreasi, mulai dari ogoh-ogoh, tarian, marching band, sound horeg, hingga sepeda hias.

Cerita kedua lahir dari potongan gambar yang beredar. Adegan penyembelihan kambing dan sejumlah visual pertunjukan kemudian dianggap sebagian penonton menyerupai simbol atau ritual satanisme. Dari sinilah perdebatan muncul.

Lalu saya bertanya: ketika kita tidak berada di sana, sebenarnya apa yang sedang kita lihat?

Pertanyaan ini penting. Sebab, sebagian besar dari kita mengenal SKNC bukan melalui pengalaman langsung, melainkan melalui representasi yang sudah lebih dahulu dipilih dan disebarkan.

Stuart Hall melihat representasi bukan sekadar cara menunjukkan sesuatu. Representasi juga merupakan proses pembentukan makna. Gambar, bahasa, dan tanda dibaca melalui pengetahuan, pengalaman, dan kebudayaan orang yang melihatnya.

Di sinilah persoalan SKNC menjadi menarik.

Barangkali peserta karnaval memiliki maksud tertentu ketika memilih kostum, properti, atau adegan. Barangkali penonton di lokasi memiliki pemahaman sendiri. Kita tidak tahu seluruhnya.

Yang kita terima kemudian adalah potongan.

Kambing.
Darah.
Tanduk.
Wajah menyeramkan.

Ketika potongan itu dilepaskan dari rangkaian pertunjukan, tanda-tanda tersebut mulai bekerja dengan cara yang berbeda. Seseorang dapat melihatnya sebagai kreativitas. Orang lain dapat merasa tidak nyaman. Orang yang memiliki referensi tertentu mengenai simbol okultisme dapat menghubungkannya dengan satanisme.

Satu gambar tidak selalu menghasilkan satu makna.

Perbedaan tafsir itu sendiri bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika tafsir berubah menjadi kepastian.

β€œMirip ritual” menjadi β€œritual”.

β€œMenyerupai simbol satanisme” menjadi β€œsatanisme”.

Padahal, kemiripan bukan pembuktian.

Kita perlu berhenti sejenak di antara apa yang terlihat dan apa yang kita simpulkan.

Sebab, media sosial membuat jarak itu semakin pendek.

Sebuah karnaval dapat berlangsung berjam-jam, tetapi yang sampai kepada kita mungkin hanya video beberapa puluh detik. Kamera memilih bagian tertentu. Pengunggah memilih judul tertentu. Pengguna lain menambahkan komentar. Akun berikutnya mengunggah ulang dengan narasi yang berbeda.

Peristiwa yang sama terus dibaca.

Terus diberi nama.
Terus diberi makna.

Sampai akhirnya kita tidak lagi ingat mana gambar awal, mana tafsir, dan mana kesimpulan yang muncul belakangan.

Di sinilah saya merasa persoalan SKNC menjadi lebih besar daripada sekadar perdebatan tentang apakah ia β€œsatanis” atau bukan.

Yang menarik adalah perjalanan sebuah makna.

Bagaimana sebuah pertunjukan yang ditempatkan penyelenggara dalam rangkaian perayaan Maulid dan tradisi masyarakat dapat memperoleh pembacaan yang sangat berbeda setelah masuk ke ruang digital. Panitia menyebut SKNC sebagai ruang untuk menjaga tradisi, merawat kebersamaan, dan menguatkan persaudaraan.

Apakah berarti kritik harus dihentikan?

Tidak.

Justru karena karnaval itu hadir dalam konteks perayaan keagamaan, pertanyaan tentang batas kreativitas, kepantasan visual, dan sensitivitas terhadap simbol menjadi wajar. Panitia berhak menjelaskan maksud pertunjukan. Masyarakat juga berhak menyampaikan keberatan.

Tetapi keduanya membutuhkan satu hal: konteks.

Hal yang sama berlaku ketika peristiwa lain ikut masuk ke dalam percakapan tentang SKNC.

Ahmad Faiz, 40 tahun, warga Simbang Kulon, meninggal pada Jumat pagi setelah mengikuti karnaval malam sebelumnya. Keluarganya menjelaskan bahwa ia mengalami kelelahan berat setelah hampir tidak tidur selama dua hari karena mempersiapkan kegiatan karnaval sambil tetap bekerja. Keluarga juga meminta masyarakat tidak membuat spekulasi mengenai kematiannya di luar fakta yang mereka ketahui.

Ada pula dua pedagang sosis yang melaporkan dugaan pengeroyokan saat melintas di tengah kerumunan karnaval. Polisi menyatakan kasus tersebut masih diselidiki. Berdasarkan keterangan panitia kepada polisi, orang-orang yang terlibat dalam keributan itu bukan peserta maupun panitia karnaval.

Kematian itu nyata.
Pengeroyokan itu nyata.
Kontroversi visual itu juga nyata.

Tetapi ketiganya tidak otomatis menjadi satu cerita.

Kita tidak bisa menjadikan kedekatan waktu sebagai bukti hubungan sebab-akibat. Kita juga tidak bisa menjadikan sebuah simbol sebagai bukti atas keyakinan seseorang.

Di titik ini, saya kembali kepada posisi awal.

Saya tidak berada di Simbang Kulon.

Saya hanya melihat apa yang diperlihatkan kepada saya.

Mungkin pembaca juga demikian.

Kita sering merasa telah melihat sebuah peristiwa hanya karena telah melihat videonya. Padahal, melihat rekaman tidak selalu sama dengan mengalami peristiwa. Kita dapat melihat gambar seseorang tanpa mengetahui percakapannya. Kita dapat melihat kerumunan tanpa mengetahui apa yang terjadi sebelum kamera menyala. Kita dapat membaca sebuah judul tanpa mengetahui bagaimana judul itu dipilih.

Ada yang memilih gambar.
Ada yang memilih durasi.
Ada yang memilih judul.
Ada yang memilih kata.

Lalu kita datang belakangan dan menyebut apa yang tersisa sebagai kenyataan.

Mungkin itu sebabnya SKNC menjadi menarik bukan hanya sebagai sebuah karnaval, tetapi sebagai contoh kecil tentang bagaimana makna diperebutkan di ruang digital.

Saya tidak tahu apakah pembaca akan melihat SKNC sebagai kreativitas, pertunjukan yang kelewat batas, atau sesuatu yang lain.

Saya sendiri hanya tahu satu hal: saya mengenal karnaval itu melalui potongan-potongan yang sudah lebih dahulu diberi makna.

Dan mungkin, sebelum bertanya β€œapa yang terjadi di Simbang Kulon?”, ada pertanyaan lain yang lebih sulit:

ketika kita merasa sedang melihat sebuah peristiwa, siapa sebenarnya yang menentukan apa yang kita lihat?