Oleh: Dr. Abd. Jabbar, S.IP., M.Si.
Ketua Karang Taruna Sidrap
SAYA tidak kenal dekat AKBP Indra Waspada Yuda.
Belum pernah ngopi bersama.
Belum pernah berdiskusi panjang.
Apalagi berdebat soal kondisi Sidrap.
Tapi saya tahu satu hal.
Menjadi Kapolres di daerah seperti Sidrap bukan pekerjaan mudah.
Mungkin lebih mudah menangkap pencuri.
Daripada menangkap hati masyarakat.
Padahal, di zaman sekarang, yang lebih dibutuhkan institusi kepolisian justru yang kedua itu.
Menangkap hati masyarakat.
Sebab kalau masyarakat sudah percaya, pekerjaan polisi akan jauh lebih ringan.
Informasi datang sendiri.
Dukungan datang sendiri.
Partisipasi masyarakat tumbuh sendiri.
Sebaliknya, kalau kepercayaan publik menurun, sehebat apa pun operasi kepolisian, hasilnya tidak akan maksimal.
Polisi bisa saja menangkap pelaku kejahatan.
Tetapi belum tentu berhasil mendapatkan simpati masyarakat.
Di situlah tantangan besar Polri saat ini.
Menurut saya, tantangan terbesar kepolisian sekarang bukan lagi soal jumlah personel, kendaraan patroli, atau banyaknya operasi yang digelar.
Tantangan sesungguhnya adalah komunikasi.
Ya, komunikasi.
Terdengar sederhana.
Tetapi justru di situlah masalah sering muncul.
Masyarakat sebenarnya tidak selalu menuntut sesuatu yang rumit.
Mereka hanya ingin didengar.
Mereka ingin dihargai.
Mereka ingin dilayani dengan baik.
Mereka ingin diperlakukan sebagai warga negara, bukan sebagai orang yang sedang merepotkan aparat.
Kadang masyarakat datang ke kantor polisi dengan perasaan takut.
Ada yang menjadi korban.
Ada yang kehilangan.
Ada yang mencari keadilan.
Ada pula yang datang karena sedang menghadapi masalah hidup yang tidak mudah.
Ketika mereka datang, mereka tidak hanya membutuhkan prosedur.
Mereka juga membutuhkan empati.
Mungkin itu yang perlu terus diperkuat.
Polisi yang humanis.
Polisi yang ramah.
Polisi yang bisa menjelaskan sesuatu tanpa membuat masyarakat merasa kecil.
Karena sesungguhnya, pelayanan adalah wajah pertama kepolisian.
Bukan seragam.
Bukan pangkat.
Bukan mobil dinas.
Pelayanan.
Saya percaya AKBP Indra Waspada Yuda memahami hal itu.
Apalagi beliau datang di era Polri Presisi.
Sebuah konsep yang bagus.
Tetapi konsep hanya akan menjadi tulisan di spanduk kalau tidak terasa manfaatnya oleh masyarakat.
Presisi harus hadir di ruang pelayanan.
Presisi harus hadir saat menerima laporan warga.
Presisi harus hadir saat anggota berinteraksi dengan masyarakat.
Presisi harus hadir dalam bahasa yang mudah dipahami rakyat.
Bukan bahasa yang hanya dimengerti sesama aparat.
Ada satu harapan lain yang menurut saya tidak kalah penting.
Jangan menutup diri.
Kapolres jangan hanya bergaul dengan lingkaran yang itu-itu saja.
Sidrap memiliki banyak energi positif.
Ada kampus.
Ada organisasi kepemudaan.
Ada komunitas.
Ada tokoh agama.
Ada tokoh masyarakat.
Ada media.
Ada pelaku UMKM.
Ada petani.
Ada generasi muda yang penuh ide.
Libatkan mereka.
Ajak bicara.
Ajak berdiskusi.
Ajak berkolaborasi.
Sebab keamanan tidak bisa dibangun sendirian.
Kamtibmas bukan proyek kepolisian.
Kamtibmas adalah urusan bersama.
Saya selalu percaya bahwa polisi yang hebat bukan hanya polisi yang berhasil mengungkap kasus.
Tetapi polisi yang mampu mencegah kasus itu terjadi.
Polisi yang mampu membuat anak-anak muda menjauhi narkoba.
Polisi yang mampu mencegah konflik sosial sebelum meledak.
Polisi yang mampu menghadirkan rasa aman bahkan sebelum masyarakat memintanya.
Karena itu saya berharap Polres Sidrap ke depan lebih banyak menghadirkan program-program kreatif.
Bukan sekadar kegiatan seremonial.
Bukan sekadar foto-foto lalu selesai.
Tetapi program yang benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat.
Misalnya ruang diskusi pemuda.
Literasi digital untuk melawan hoaks.
Pembinaan komunitas.
Program keselamatan berlalu lintas yang lebih menarik.
Atau kegiatan yang membuat polisi lebih sering bertemu masyarakat dalam suasana yang hangat, bukan hanya saat ada masalah.
Saya kira itu penting.
Sangat penting.
Karena hubungan polisi dan masyarakat tidak boleh dibangun hanya ketika ada kasus.
Hubungan itu harus dibangun setiap hari.
Sedikit demi sedikit.
Dari kepercayaan.
Dari komunikasi.
Dari ketulusan melayani.
AKBP Indra Waspada Yuda mungkin akan menerima banyak laporan angka.
Angka kriminalitas.
Angka kecelakaan.
Angka penyelesaian perkara.
Angka operasi.
Semua itu penting.
Tetapi ada satu angka yang sering tidak tertulis dalam laporan resmi.
Tingkat kepercayaan masyarakat.
Padahal itulah angka yang paling menentukan.
Kalau angka itu naik, banyak persoalan akan lebih mudah diselesaikan.
Kalau angka itu turun, pekerjaan polisi akan semakin berat.
Selamat datang di Bumi Nene Mallomo, Pak Kapolres.
Sidrap tidak membutuhkan polisi yang ditakuti.
Sidrap membutuhkan polisi yang dihormati.
Dan penghormatan itu tidak lahir dari pangkat.
Ia lahir dari keteladanan, pelayanan, dan kedekatan dengan masyarakat.
Mudah-mudahan kepemimpinan baru ini bukan hanya menghadirkan wajah baru.
Tetapi juga menghadirkan semangat baru.
Polisi yang lebih humanis.
Lebih terbuka.
Lebih komunikatif.
Dan lebih dekat dengan rakyat yang dilayaninya. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
