Pekalongan, Katasulsel.com – Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 mendadak menjadi sorotan setelah sejumlah potongan video penampilannya beredar luas di media sosial. Namun, karnaval malam di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, itu bukan tradisi yang baru muncul tahun ini.
SKNC merupakan bagian dari rangkaian kegiatan tahunan masyarakat Simbang Kulon. Bentuk pertunjukannya pun berkembang dari waktu ke waktu, dengan ogoh-ogoh, kostum, kesenian, marching band, sound horeg hingga berbagai kreasi warga menjadi bagian dari parade.
Jejak penyelenggaraan sebelumnya menunjukkan bahwa kreativitas visual memang telah menjadi ciri karnaval tersebut.
Pada 2023, misalnya, SKNC menampilkan 27 ogoh-ogoh dan melibatkan perwakilan dari setiap musala di Simbang Kulon. Pawai budaya itu juga dimeriahkan marching band dari Pati dan Wonosobo. Penyelenggara ketika itu berharap kegiatan dapat memperkuat guyub rukun dan persatuan warga.
Setahun berikutnya, dokumentasi SKNC 2025 memperlihatkan parade dengan bentuk yang semakin beragam. Sebanyak 26 grup tampil membawa maskot masing-masing. Salah satunya menampilkan βSerigala Berkepala Tigaβ yang dijelaskan sebagai figur makhluk mitologi.
Ketua Ranting NU Simbang Kulon Nurul Haq saat itu menyebut tema yang diusung adalah βMenjaga Tradisi untuk Kebersamaan.β Menurutnya, karnaval menjadi bagian dari upaya mempertahankan tradisi di tengah perkembangan budaya.
Karnaval 2025 juga tidak berdiri sendiri. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian khitan massal yang telah berlangsung selama enam dekade. Radio Kota Batik Pekalongan mencatat khitan massal Simbang Kulon telah menjadi tradisi tahunan sejak 1965 dan pada 2025 memasuki pelaksanaan ke-60.
Memasuki 2026, SKNC kembali digelar pada Kamis (10/9/2026) malam. Sebanyak 25 barisan dari 25 musala di Simbang Kulon tampil dengan membawa beragam kreasi.
Tema yang diusung kali ini adalah βNyawiji ing Budaya, Ngukuhake Paseduluranβ. Panitia menyebut tema tersebut sebagai ajakan untuk berjalan bersama, menjaga tradisi, merawat kebersamaan, dan memperkuat persaudaraan.
Beragam penampilan kembali memenuhi jalanan Simbang Kulon. Ogoh-ogoh dengan berbagai karakter hadir bersama parade busana, tarian, marching band, sound horeg, serta sepeda hias.
Artinya, bentuk visual SKNC tidak berhenti pada satu jenis karakter atau konsep. Setiap penyelenggaraan memberi ruang bagi peserta untuk membawa kreasi masing-masing.
Hal itu penting ketika SKNC 2026 kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Potongan video yang beredar menampilkan sejumlah adegan dan karakter yang memunculkan beragam tafsir dari penonton.
Namun, melihat satu penyelenggaraan melalui beberapa potongan video tidak serta-merta menggambarkan keseluruhan tradisi. Dokumentasi dari tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan figur fantasi, ogoh-ogoh, kostum dan berbagai bentuk visual memang telah menjadi bagian dari ekspresi peserta.
Di sisi lain, konteks penyelenggaraan juga tidak berubah begitu saja. SKNC 2026 tetap berada dalam rangkaian kegiatan masyarakat Simbang Kulon yang berkaitan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW dan khitan massal.
Karena itu, viralnya SKNC 2026 sebaiknya tidak membuat sejarah penyelenggaraannya ikut hilang dari perhatian. Ada tradisi puluhan tahun, keterlibatan warga melalui musala, serta bentuk kreativitas yang terus berkembang di balik karnaval yang kini ditonton jutaan mata melalui layar ponsel.
Yang berubah mungkin bukan sekadar bentuk ogoh-ogoh atau tema karnavalnya, tetapi juga cara publik melihatnya.
Dulu, sebuah kreasi cukup ditonton warga yang berdiri di sepanjang jalan Simbang Kulon. Kini, satu adegan dapat dipotong, diunggah, dibagikan, lalu diberi makna oleh orang-orang yang bahkan tidak berada di lokasi.
Di situlah SKNC 2026 menjadi berbeda. Karnavalnya berlangsung satu malam, tetapi tafsir terhadapnya terus berjalan di ruang digital.(*)
