Makassar, Katasulsel.com — Liburan tidak selalu harus berakhir dengan foto di tempat yang indah. Di sejumlah desa wisata di Sulawesi Selatan, perjalanan bisa menjadi kesempatan untuk mengenal tradisi, melihat aktivitas warga, hingga mencoba langsung pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Berikut beberapa desa wisata yang menarik untuk dimasukkan dalam daftar perjalanan bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana sekaligus belajar budaya lokal.
Sulawesi Selatan memiliki banyak desa wisata dengan karakter berbeda. Data Jejaring Desa Wisata (Jadesta) mencatat desa wisata tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sulsel, dengan potensi alam, budaya, kuliner, hingga aktivitas berbasis masyarakat.
- Desa Wisata Ara, Bulukumba
Nama Ara tidak bisa dilepaskan dari tradisi pembuatan perahu pinisi. Desa di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, ini memiliki masyarakat yang mewarisi keterampilan pembuatan kapal secara turun-temurun.
Selain melihat proses pembuatan perahu, wisatawan dapat mengenal seni dan kearifan lokal seperti seni ukir Anjong dan Teba, tari Salonreng Ara, kesenian gong dan gendang, serta Kelong dan Doangang.
Desa Ara juga memiliki lanskap pesisir dengan Tebing Apparalang, Pantai Mandala Ria, dan Gua Passohara. Dengan begitu, perjalanan ke Ara tidak hanya menawarkan wisata alam, tetapi juga kesempatan mengenal salah satu tradisi maritim yang menjadi identitas penting masyarakat Bulukumba.
- Desa Wisata Matano Iniaku, Luwu Timur
Kalau ingin menggabungkan wisata alam dengan sejarah masyarakat, Desa Wisata Matano Iniaku bisa menjadi pilihan.
Desa di Kecamatan Nuha, Luwu Timur, berada di tepian Danau Matano. Jadesta mencatat desa ini memiliki bentang alam, peninggalan arkeologi, serta tradisi pandai besi yang telah berkembang sejak masa lampau.
Menariknya, wisatawan tidak hanya menjadi penonton. Ada atraksi budaya seperti Molabu, yakni aktivitas menempa besi, dan Mesiloli, memainkan suling. Wisatawan juga dapat mencoba aktivitas di Danau Matano, seperti berkano dan berkayak.
Karakter tersebut membuat Matano menarik bagi wisatawan yang ingin memahami hubungan antara masyarakat, lingkungan, dan pengetahuan lokal.
- Desa Wisata Barania, Sinjai
Desa Wisata Barania di Kecamatan Sinjai Barat menawarkan konsep yang lebih dekat dengan kehidupan warga.
Salah satu daya tariknya adalah paket live in. Wisatawan dapat tinggal di rumah warga dan mengikuti aktivitas sehari-hari, termasuk mengenal kebiasaan masyarakat, kuliner desa, hingga kegiatan pertanian.
Barania juga memiliki tradisi pertanian yang masih dipertahankan. Jadesta mencatat aktivitas A’bbaja Galung, yakni pengolahan sawah dengan peralatan tradisional. Wisatawan dapat melihat bagaimana aktivitas pertanian dilakukan dengan cara yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain belajar kehidupan pedesaan, pengunjung dapat menikmati Kampoeng Galung, Air Terjun Barania, Taman Agrowisata Pattiroang, dan kawasan camping. Barania juga pernah masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.
- Desa Wisata Tompo Bulu, Pangkep
Desa Wisata Tompo Bulu di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, menawarkan pengalaman yang cukup lengkap.
Desa ini berada di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan memiliki berbagai potensi alam. Namun, daya tariknya tidak berhenti pada pendakian atau panorama.
Wisatawan dapat mengenal tradisi mappadendang atau pesta panen, musik gambus, seni tari, serta tradisi mappalili yang berkaitan dengan aktivitas turun sawah. Ada pula edukasi penanaman padi, penyadapan aren, hingga kunjungan ke pengrajin gula aren.
Tompo Bulu bahkan masuk 75 besar ADWI 2023. Kemenparekraf menilai desa ini memiliki perpaduan alam, produk ramah lingkungan, budaya lokal, dan keramahan masyarakat yang menjadi kekuatannya.
- Desa Wisata Kambo, Palopo
Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana desa tanpa terlalu jauh dari kawasan perkotaan, Kambo di Kota Palopo bisa menjadi pilihan.
Kambo berada di kawasan perbukitan dan menawarkan panorama Kota Palopo dari ketinggian. Kehidupan masyarakatnya masih dekat dengan aktivitas pertanian, seperti menanam cengkeh, memanen lengkuas, merawat kebun durian, dan mencari madu dari hutan.
Pengalaman wisata di Kambo juga dapat dilakukan melalui homestay, kebun organik, aktivitas pertanian, serta kuliner lokal. Desa ini pernah menjadi salah satu dari empat desa wisata Sulsel yang masuk 50 besar ADWI 2022.
Liburan yang Tidak Sekadar Berkunjung
Desa wisata menawarkan cara berbeda untuk menikmati perjalanan. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat dan memahami bagaimana sebuah tempat mempertahankan pengetahuan lokalnya.
Di Ara, wisatawan dapat melihat bagaimana keterampilan membuat pinisi diwariskan. Di Matano, ada tradisi pandai besi yang berjalan berdampingan dengan kehidupan di sekitar danau. Di Barania, kehidupan pertanian menjadi bagian dari pengalaman wisata. Sementara Tompo Bulu mempertemukan tradisi panen dengan ekowisata, dan Kambo menunjukkan bagaimana kehidupan pertanian tetap berjalan di tengah berkembangnya aktivitas pariwisata.
Bagi wisatawan, pengalaman semacam ini membuat perjalanan ke Sulawesi Selatan tidak berhenti pada urusan mencari tempat bagus untuk difoto.
Ada cerita masyarakat yang bisa dipelajari, tradisi yang bisa dikenali, dan pengetahuan lokal yang bisa dihargai.
Sebab, perjalanan yang baik bukan hanya tentang tempat yang kita datangi, tetapi juga tentang apa yang kita pahami setelah pulang.
