Asahan, katasulsel.com — Ada yang berbeda di tengah riuh Jambore Kader Posyandu Kabupaten Asahan 2026.
Bukan hanya tepuk tangan, senyum para kader, atau kemeriahan ratusan peserta yang memenuhi Alun-alun Rambate Rata Raya Kota Kisaran, Minggu (13/9/2026).
Kehadiran Camel Petir ikut mengubah suasana.
Penyanyi dangdut yang dikenal luas dengan nama Camel Petir itu tampil menghibur para kader Posyandu yang sehari-hari menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat.
Senandungnya mengalir di tengah acara yang sejatinya tidak sekadar menjadi panggung hiburan. Bagi Camel, seni justru dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesehatan masyarakat.
“Seni tidak lagi sekadar hiburan. Seni juga bisa menjadi instrumen intervensi sosial dan medis,” kata Camel Petir seusai tampil.
Menurut perempuan bernama lengkap Camellia Panduwinata Lubis itu, pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Arts in Health yang berkembang secara global.
Ia menilai seniman memiliki ruang untuk memberikan dampak lebih luas, terutama ketika terlibat dalam kegiatan sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Seniman memiliki efek multiplikasi yang signifikan di berbagai sektor kehidupan, terutama dalam kegiatan sosial yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Di hadapan para kader, Camel juga menyoroti pentingnya keberadaan Posyandu, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pelayanan kesehatan.
Menurutnya, Posyandu bukan sekadar tempat pelayanan rutin. Di banyak wilayah, keberadaannya menjadi pintu pertama masyarakat untuk mendapatkan akses layanan kesehatan dasar.
“Di daerah terpencil, Posyandu berfungsi sebagai lini pertahanan pertama dalam menjaga kesehatan ibu, anak, dan lansia,” katanya.
Bagi Camel, karena itu para kader Posyandu tidak hanya membutuhkan peningkatan kapasitas, tetapi juga ruang untuk menyegarkan kembali semangat mereka.
Jambore menjadi salah satu ruang tersebut.
Ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan suasana penuh antusiasme. Pertemuan itu sekaligus menjadi ajang silaturahmi, pertukaran pengalaman, serta penguatan peran kader dalam pelayanan dasar di tingkat desa dan kelurahan.
Camel sendiri mengaku senang bisa hadir dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Asahan.
Nama Camel Petir dikenal publik setelah tampil dalam drama realitas televisi Penghuni Terakhir (Petir) yang ditayangkan ANTV. Ia kemudian dikenal sebagai penyanyi dangdut sekaligus figur publik yang aktif dalam berbagai kegiatan.
Di sela kehadirannya di Asahan, Camel juga menegaskan bahwa kader Posyandu memiliki peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Para peserta tidak hanya paham soal pelayanan kesehatan, tetapi juga siap berperan aktif mendukung pelayanan dasar lintas sektor di tingkat desa dan kelurahan,” ujarnya.
Jambore Kader Posyandu Kabupaten Asahan 2026 turut dihadiri Bupati Asahan Taufik Zainal Abidin Siregar, S.Sos., M.Si., Wakil Bupati Asahan Rianto, S.H., M.A.P., Ketua TP Posyandu Asahan Yusnila Indriati Taufik, serta Wakil Sekretaris TP Posyandu Asahan Juni S. Pane.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan kader, termasuk kemampuan teknis dalam memberikan pelayanan Posyandu berbasis siklus hidup.
Konsep itu mencakup pelayanan bagi berbagai kelompok usia, mulai bayi, balita, ibu hamil hingga lansia.
Namun di balik agenda peningkatan kapasitas tersebut, ada satu pesan yang terasa kuat dari panggung Asahan hari itu.
Kader kesehatan juga manusia.
Mereka bekerja, melayani, berhadapan dengan masyarakat, dan membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas.
Di situlah Camel Petir hadir.
Bukan hanya membawa lagu dan hiburan, tetapi juga membawa pesan bahwa menjaga kesehatan masyarakat tidak selalu harus berbicara tentang obat, fasilitas dan layanan medis.
Kadang, sebuah lagu, senyum dan suasana yang menyenangkan juga bisa menjadi cara sederhana untuk menguatkan mereka yang setiap hari bekerja menjaga kesehatan masyarakat. (*)
