Jakarta, Katasulsel.com — Nama Kabupaten Sidenreng Rappang kembali muncul di panggung nasional. Kali ini bukan karena seremoni daerah, melainkan karena sektor pangan Sidrap dipaparkan sebagai salah satu contoh daerah yang terus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI menyoroti perkembangan Sidrap pada sektor pertanian, peternakan, perkebunan hingga perikanan.
Sorotan itu disampaikan dalam Rapat Penanganan Inflasi Nasional di Jakarta yang dihadiri Menteri Dalam Negeri dan Menteri PPN/Kepala Bappenas RI.
Bagi Sidrap, penyebutan tersebut bukan sekadar nama yang muncul dalam forum pemerintah pusat. Ada pesan yang lebih besar: daerah penghasil pangan tidak hanya dituntut mampu meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga sektor pangan tetap menjadi penopang ekonomi sekaligus bagian dari strategi pengendalian inflasi.
Sidrap selama ini dikenal sebagai salah satu daerah sentra pertanian di Sulawesi Selatan. Aktivitas ekonomi masyarakatnya juga banyak bertumpu pada sektor pangan dan usaha turunannya.
Ketika sektor pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan bergerak bersama, dampaknya tidak berhenti di sawah atau kandang. Perputaran ekonomi ikut bergerak, pasokan pangan terjaga, dan daya tahan ekonomi daerah menjadi lebih kuat.
Karena itu, penyebutan Sidrap dalam forum penanganan inflasi nasional menjadi menarik. Daerah ini seolah sedang menunjukkan bahwa pengendalian inflasi tidak selalu harus dimulai dari pasar, tetapi juga dari kemampuan daerah menjaga produksi pangan dari hulu.
Sidrap kini tidak hanya berbicara soal berapa banyak pangan yang dihasilkan, tetapi bagaimana sektor tersebut menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Jika tren itu mampu dipertahankan, Sidrap berpeluang semakin dikenal bukan hanya sebagai daerah penghasil pangan di Sulawesi Selatan, tetapi sebagai salah satu contoh daerah yang mampu menjadikan sektor pangan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.
Sidrap bergerak. Pangan menguat. Dan kali ini, perkembangannya mendapat perhatian dari tingkat nasional. (*)
