Maros, Katasulsel.com – Pengunjung yang memasuki kawasan wisata Bantimurung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, akan menemukan sebuah patung monyet berukuran besar yang berdiri di pintu masuk kawasan.
Patung itu duduk dengan kaki terbuka. Satu tangannya terangkat ke atas, sementara tangan lainnya berada di atas kepala. Ukurannya jauh lebih besar daripada manusia yang berdiri di bawahnya.
Bagi sebagian pengunjung, patung tersebut mungkin hanya menjadi penanda kawasan wisata. Namun, keberadaannya berkaitan dengan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Maros tentang Toakala, sosok kera putih dalam legenda setempat.
Di balik patung raksasa itu terdapat cerita tentang kerajaan kera, seorang putri bernama Bissu Daeng, serta kisah yang menghubungkan manusia, kera, air terjun, dan kawasan Bantimurung.
Patung Monyet yang Berkaitan dengan Toakala
Patung kera di gerbang Bantimurung dikenal sebagai representasi Toakala dalam cerita rakyat masyarakat Maros.
Cerita Toakala berkembang sebagai cerita rakyat Bugis-Makassar. Salah satu versi mengisahkan Toakala sebagai raja kera berwujud kera putih yang tinggal di kawasan Bantimurung.
Dalam cerita tersebut, Toakala jatuh cinta kepada Bissu Daeng, putri dari Kerajaan Pattiro. Hubungan keduanya kemudian menjadi bagian dari rangkaian konflik antara kerajaan manusia dan kerajaan kera.
Versi cerita mengenai Toakala memang tidak tunggal. Detail mengenai tokoh, kerajaan, hubungan antartokoh, hingga akhir kisah berbeda dalam sejumlah sumber.
Karena itu, kisah Toakala lebih tepat ditempatkan sebagai legenda atau cerita rakyat, bukan sebagai catatan sejarah faktual.
Penelitian dari Universitas Negeri Makassar juga mencatat bahwa cerita rakyat Toakala menjadi latar yang berkaitan dengan keberadaan patung kera putih di gerbang utama kawasan Bantimurung.
Mengapa Patungnya Berbentuk Kera?
Ada alasan mengapa kera menjadi salah satu simbol yang menonjol di Bantimurung.
Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mencatat Macaca maura, atau monyet dare, sebagai salah satu satwa endemik Sulawesi Selatan yang terdapat di kawasan taman nasional.
Balai taman nasional juga menjelaskan bahwa patung kera yang berdiri di gerbang wisata Bantimurung menjadi simbol keberadaan kera di wilayah tersebut, terutama di kawasan sekitar jalur Maros-Bone.
Dengan demikian, patung tersebut memiliki dua lapis makna yang berkembang berdampingan.
Pertama, ia berkaitan dengan satwa khas kawasan Bantimurung dan sekitarnya. Kedua, bentuk kera tersebut melekat dengan cerita rakyat Toakala yang berkembang di masyarakat Maros.
Dua hal inilah yang membuat patung monyet Bantimurung berbeda dari sekadar ornamen di pintu masuk tempat wisata.
Ada Kera Dare di Kawasan Bantimurung
Kera yang hidup di kawasan Bantimurung dan wilayah sekitarnya bukan sekadar bagian dari cerita rakyat.
Macaca maura merupakan primata endemik Sulawesi yang dalam bahasa lokal dikenal sebagai dare. Satwa ini dapat ditemukan di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Balai taman nasional memasukkan Macaca maura sebagai salah satu satwa yang perlu mendapat perhatian konservasi. Habitatnya juga mencakup kawasan Karaenta yang berada di jalur menuju Bone.
Kawasan tersebut menjadi salah satu habitat penting bagi monyet dare. Jalan nasional yang menghubungkan Maros dan Bone bahkan membelah habitatnya. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mencatat kawasan Karaenta sebagai salah satu lokasi yang dikenal untuk pengamatan satwa liar.
Keberadaan kera di kawasan tersebut ikut menjelaskan mengapa sosok kera begitu kuat dalam identitas visual Bantimurung.
Dari Kera Putih hingga Toakala
Dalam cerita rakyat yang berkembang di Maros, Toakala digambarkan sebagai kera putih berukuran besar dan memiliki kemampuan seperti manusia.
Salah satu versi cerita yang dicatat dalam pemberitaan detikcom menyebut Toakala sebagai raja kerajaan kera yang berada di sekitar Kampung Abbo, wilayah Bantimurung.
Cerita tersebut juga menghubungkan Toakala dengan Bissu Daeng, putri Raja Pattiro. Dalam kisah itu, Toakala tertarik kepada sang putri setelah melihatnya di sekitar Telaga Kassi Kebo, kawasan yang berada di atas Air Terjun Bantimurung.
Rangkaian cerita kemudian berkembang menjadi konflik dan berakhir dengan pengasingan Toakala. Sejumlah lokasi di kawasan Bantimurung juga kemudian dikaitkan dengan legenda tersebut.
Hubungan antara Toakala dan kawasan Bantimurung membuat patung kera di pintu masuk tidak berdiri sebagai objek yang terpisah dari lingkungan sekitarnya.
Patung tersebut membawa cerita yang sudah lama beredar di tengah masyarakat.
Bukan Hanya Cerita, Kera di Maros Memang Ada
Menariknya, cerita tentang kera di Bantimurung memiliki konteks ekologis yang nyata.
Di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terdapat populasi Macaca maura. Satwa tersebut juga dikenal masyarakat setempat sebagai dare.
Kera dare memiliki kehidupan sosial dalam kelompok. Di sepanjang jalur Maros-Bone, masyarakat dapat menjumpai kelompok kera di kawasan hutan Karaenta.
Balai taman nasional bahkan mengembangkan kampanye Selamatkan Dare karena habitat monyet tersebut berhadapan dengan aktivitas manusia dan jalan nasional yang membelah kawasan hutan.
Persoalan lain muncul ketika pengendara atau pengunjung memberikan makanan kepada kera.
Pemberian makanan dapat membuat satwa terbiasa bergantung pada manusia dan mengubah perilaku alaminya. Pengelola kawasan karena itu memasang larangan agar masyarakat tidak memberi makan kera liar.
Di titik ini, patung kera di gerbang Bantimurung memiliki konteks yang lebih luas. Sosok kera tidak hanya hidup dalam cerita Toakala, tetapi juga merepresentasikan satwa yang benar-benar hidup di bentang alam Maros.
Toakala, Cerita yang Mulai Jarang Dikenal
Legenda Toakala pernah menjadi cerita yang cukup dikenal di masyarakat Maros.
Namun, cerita tersebut menghadapi persoalan yang sama dengan banyak cerita rakyat lainnya. Pewarisannya bergantung pada ingatan masyarakat dan kebiasaan menceritakan kembali kisah tersebut kepada generasi berikutnya.
Kajian Universitas Negeri Makassar mengenai cerita rakyat Toakala mencatat bahwa kisah tersebut mulai kurang dikenal oleh sebagian generasi muda. Salah satu penyebabnya adalah semakin jarangnya aktivitas mendongeng dan pewarisan cerita rakyat secara langsung.
Karena itu, patung kera di depan kawasan Bantimurung dapat dibaca sebagai salah satu jejak visual dari cerita tersebut.
Orang mungkin datang untuk melihat Air Terjun Bantimurung, mencari kupu-kupu, menikmati kawasan karst, atau memasuki gua. Namun, sebelum sampai ke sana, mereka terlebih dahulu berhadapan dengan sosok kera raksasa yang duduk di pintu masuk.
Sosok itu dikenal sebagai bagian dari ikon Bantimurung dan berkaitan dengan kisah Toakala, sang kera putih dalam legenda masyarakat Maros.
