Maros, Katasulsel.com — Kabupaten Maros tidak hanya memiliki bentang karst yang menjadi tujuan wisata. Di balik gugusan batu kapur dan perbukitannya, terdapat gua-gua yang menyimpan jejak kehidupan manusia dari masa prasejarah.

Salah satunya adalah Gua Lambatorang.

Gua yang berada di kawasan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, itu tercatat sebagai situs cagar budaya. Pemerintah Kabupaten Maros menetapkannya melalui Surat Keputusan Bupati Maros Nomor 976/KPTS/430/II/2019.

Yang membuat Gua Lambatorang menarik bukan hanya bentuk guanya, tetapi tinggalan arkeologi yang ditemukan di dalamnya.

Pada dinding gua terdapat gambar cadas dengan motif binatang. Sementara di bagian lain ditemukan artefak batu serpih atau alat batu mikrolit serta sisa-sisa kulit kerang.

Kumpulan temuan tersebut menjadi petunjuk bahwa gua ini pernah digunakan manusia pada masa prasejarah.

Jejak Hunian Lebih dari 40 Ribu Tahun

Data Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat Gua Lambatorang diyakini sebagai gua hunian yang telah berlangsung lebih dari 40 ribu tahun lalu.

Angka tersebut membuat Lambatorang menjadi bagian penting dari lanskap arkeologi Maros.

Namun, angka usia itu perlu ditempatkan secara tepat. Lebih dari 40 ribu tahun merujuk pada keberadaan hunian yang diyakini berdasarkan data arkeologi situs, bukan berarti seluruh gambar cadas di dinding gua otomatis berusia sama.

Di dalam gua ditemukan gambar cadas yang menampilkan motif binatang. Data resmi mencatat terdapat tiga gambar bermotif anjing dan tiga gambar bermotif kuda.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa manusia masa lalu tidak hanya menggunakan kawasan karst sebagai ruang tinggal, tetapi juga meninggalkan ekspresi visual di dalam gua.

Ada Gambar Cadas dan Alat Batu

Penelitian arkeologi terhadap Lambatorang menemukan beberapa jenis tinggalan.

Selain gambar pada dinding gua, terdapat artefak batu serpih atau alat batu mikrolit serta sisa kulit kerang. Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai aktivitas manusia yang pernah berlangsung di kawasan tersebut.

Dalam penelitian yang diterbitkan Universitas Hasanuddin, Leang Lambatorang juga dikaji melalui kegiatan pemetaan dan perekaman gambar cadas. Penelitian tersebut menggunakan teknologi pemindaian dan visualisasi tiga dimensi untuk mendokumentasikan situs.

Langkah digitalisasi menjadi penting karena gambar cadas merupakan tinggalan yang rentan mengalami kerusakan.

Dokumentasi tiga dimensi dapat menjadi data pembanding apabila kondisi situs mengalami perubahan. Penelitian Universitas Hasanuddin menyebut dokumentasi, pemetaan, dan pemodelan tiga dimensi dapat membantu proses konservasi dan pemeliharaan warisan budaya.

Masuk dalam Kawasan Leang-leang

Gua Lambatorang berada di kawasan Leang-leang, salah satu wilayah penting dalam penelitian arkeologi prasejarah di Maros.

Kawasan tersebut bukan hanya memiliki satu gua. Penelitian lapangan Universitas Hasanuddin pada Juni 2026 mencatat Lambatorang sebagai salah satu situs yang disurvei bersama sejumlah gua prasejarah lain di kawasan Leang-leang. Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa dan dosen Departemen Arkeologi Unhas untuk melakukan survei serta perekaman data arkeologi.

Keberadaan penelitian yang terus dilakukan menunjukkan bahwa kawasan ini masih memiliki nilai ilmiah yang besar.

Bagi Maros, kekayaan tersebut juga menjadi bagian dari potensi wisata budaya. Penetapan Gua Lambatorang sebagai cagar budaya memberikan dasar bagi pemerintah daerah untuk melakukan pengelolaan, pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan situs, termasuk untuk kepentingan edukasi dan wisata budaya.

Bukan Sekadar Gua

Jika wisatawan datang ke Maros untuk melihat bentang karst, Gua Lambatorang menawarkan pengalaman yang berbeda.

Di tempat ini, yang menarik bukan hanya bentuk batuan atau suasana gua. Ada tinggalan yang membantu memperlihatkan bagaimana manusia pada masa lalu memanfaatkan lingkungan sekitarnya.

Gambar binatang di dinding, alat batu, dan sisa kulit kerang menjadi bagian dari cerita panjang kehidupan manusia di kawasan karst Maros.

Karena itu, Gua Lambatorang dapat menjadi salah satu pilihan bagi pencari wisata sejarah di Maros yang ingin melihat sisi lain dari kawasan Leang-leang.

Gua ini juga menunjukkan bahwa kekayaan wisata Maros tidak berhenti pada panorama alam. Di balik dinding karstnya, terdapat jejak aktivitas manusia yang telah berlangsung jauh sebelum sejarah tertulis.

Puluhan ribu tahun kemudian, sebagian jejak itu masih dapat ditemukan di Gua Lambatorang.(*)