Maros, Katasulsel.com — Dari kejauhan, tempat ini tampak seperti danau yang dikelilingi perbukitan hijau. Bongkahan-bongkahan batu berwarna putih keabu-abuan terlihat berada di tepi hingga permukaan air.

Namun, genangan tersebut bukan danau alami.

Tempat itu dikenal sebagai Marmer Bulu Tara, kawasan bekas pertambangan marmer di Kelurahan Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Kini, kawasan tersebut dikenal masyarakat sebagai salah satu lokasi untuk menikmati pemandangan dan mengabadikan foto. Pemerintah Kelurahan Leang-Leang juga mencatat bekas tambang marmer itu sebagai salah satu spot foto di wilayahnya.

Dari Tambang Menjadi Lanskap

Daya tarik Marmer Bulu Tara justru berawal dari aktivitas pertambangan.

Bekas penggalian meninggalkan cekungan yang kemudian terisi air. Di sekitarnya masih terlihat bongkahan marmer yang menjadi bagian dari lanskap kawasan.

Ketika dipadukan dengan pepohonan dan perbukitan karst Maros, sisa aktivitas pertambangan tersebut menghasilkan pemandangan yang berbeda.

Tidak seperti destinasi yang sejak awal dirancang sebagai tempat wisata, karakter Bulu Tara terbentuk dari perubahan sebuah ruang bekas pertambangan.

Kajian mengenai potensi geowisata Marmer Bulu Tara juga mengidentifikasi kawasan ini sebagai bekas tambang marmer yang memiliki unsur geologi dan lanskap yang dapat dikembangkan sebagai objek geowisata.

Karakter tersebut membuat Bulu Tara menarik bukan hanya dari sisi fotografi, tetapi juga dari perspektif geologi dan pemanfaatan kawasan pascatambang.

Bukan Danau Alami

Di berbagai unggahan dan publikasi perjalanan, lokasi ini kerap disebut Danau Marmer Bulu Tara.

Sebutan tersebut mudah dipahami karena terdapat genangan air yang cukup luas di bekas area penggalian. Namun, secara proses terbentuknya, perairan tersebut merupakan bagian dari cekungan bekas aktivitas pertambangan.

Karena itu, lebih tepat menyebutnya sebagai genangan atau perairan bekas galian tambang daripada danau alami.

Pembedaan tersebut penting agar keunikan Bulu Tara tidak justru dibangun melalui informasi yang keliru.

Keindahan tempat ini memang nyata, tetapi cerita di baliknya juga tidak kalah menarik.

Ada aktivitas pertambangan yang meninggalkan jejak berupa bongkahan marmer dan cekungan. Kemudian, ruang tersebut memperoleh fungsi baru ketika masyarakat mulai datang untuk menikmati lanskap dan mengambil gambar.

Marmer dan Karst dalam Satu Lanskap

Salah satu hal yang membuat Bulu Tara berbeda adalah keberadaan material marmer di tengah kawasan karst Maros.

Bongkahan batu berwarna putih keabu-abuan menjadi objek yang paling mudah dikenali. Dari sudut tertentu, batu-batu tersebut tampak kontras dengan warna air dan vegetasi di sekitarnya.

Latar perbukitan karst membuat pemandangannya semakin khas.

Keunikan visual itu juga telah mendapat perhatian di luar unggahan media sosial. Publikasi KPP Pratama Maros, Kementerian Keuangan, pada 2024 pernah menampilkan Marmer Bulu Tara dalam materi fotografi lanskap dan menyebutnya sebagai kawasan bekas tambang marmer di Kabupaten Maros.

Bulu Tara juga masuk dalam pemetaan potensi ekowisata yang dilakukan Partnership for Australia-Indonesia Research. Dalam pemetaan tersebut, kawasan ini dicatat sebagai situs dengan karakter marble quarry atau tambang marmer.

Artinya, Bulu Tara bukan sekadar lokasi yang dikenal karena foto-foto di media sosial. Kawasan tersebut juga telah menjadi bagian dari dokumentasi dan kajian mengenai potensi wisata di Sulawesi Selatan.

Potensi Wisata yang Masih Perlu Dikelola

Keunikan Marmer Bulu Tara membuka peluang untuk pengembangan wisata berbasis geologi.

Kajian geowisata terhadap kawasan ini menempatkan marmer, bekas aktivitas pertambangan, dan bentang karst sebagai daya tarik yang dapat dikembangkan.

Namun, pengembangan tersebut membutuhkan pengelolaan yang serius.

Akses, fasilitas, informasi mengenai kawasan, hingga aspek keselamatan pengunjung menjadi hal yang perlu diperhatikan. Sebab, Bulu Tara pada dasarnya merupakan bekas kawasan pertambangan.

Bongkahan marmer yang terlihat menarik untuk menjadi latar foto bukan berarti seluruh permukaannya aman untuk dipijak atau dipanjat. Begitu pula bagian yang berbatasan dengan genangan air.

Karena itu, pengunjung yang datang perlu memperhatikan kondisi medan dan tidak mengambil risiko hanya demi mendapatkan foto.

Sisi Lain Wisata Maros

Maros selama ini dikenal dengan wisata karst, gua prasejarah, air terjun, dan kawasan Bantimurung.

Marmer Bulu Tara menawarkan cerita yang berbeda.

Daya tariknya bukan berasal dari objek yang sengaja dibangun untuk wisata, melainkan dari sebuah ruang bekas pertambangan yang perlahan dikenal karena lanskap yang ditinggalkannya.

Di satu sisi, bongkahan marmer menjadi jejak aktivitas manusia dalam mengambil sumber daya alam. Di sisi lain, cekungan bekas galian dan lingkungan di sekitarnya menghadirkan pemandangan yang kemudian menarik perhatian masyarakat.

Bagi pencari wisata Maros dengan suasana berbeda, Marmer Bulu Tara menjadi salah satu lokasi yang menarik untuk dikenali.

Tempat ini memperlihatkan bahwa bentang alam Maros tidak hanya menyimpan keindahan yang terbentuk secara alami. Ada pula lanskap yang lahir dari pertemuan antara alam dan aktivitas manusia.

Di antara bongkahan marmer, genangan air, dan perbukitan karst, Bulu Tara menyimpan wajah lain Maros: bekas tambang yang kini dikenal melalui lanskapnya.