Maros, Katasulsel.com — Jauh sebelum manusia mengenal kertas, kamera, atau tulisan, sebuah jejak tangan sudah tertinggal di dinding gua di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Jejak itu berada di Leang Timpuseng, kawasan karst Maros yang menyimpan tinggalan seni cadas dari masa prasejarah.
Yang membuat situs ini istimewa bukan sekadar bentuk cap tangannya. Penelitian arkeologi menunjukkan cap tangan tersebut memiliki usia minimum 39.900 tahun, menjadikannya cap tangan tertua yang diketahui dalam hasil penelitian tersebut. Temuan ini turut mengubah pemahaman tentang perkembangan seni cadas manusia pada masa Pleistosen.
Cap Tangan dari Puluhan Ribu Tahun Lalu
Leang Timpuseng merupakan salah satu situs di kawasan karst Maros-Pangkep yang menjadi perhatian para peneliti arkeologi.
Penelitian terhadap seni cadas di kawasan tersebut dilakukan melalui kerja sama peneliti Indonesia dan Australia. Pada 2012 hingga 2013, tim melakukan penelitian dan pertanggalan terhadap lukisan cadas di sejumlah gua.
Hasilnya mengejutkan.
Dua gambar di Leang Timpuseng berhasil ditentukan usianya melalui metode uranium-series. Salah satunya berupa cap tangan dengan usia minimum 39.900 tahun, sedangkan gambar babirusa di situs yang sama memiliki usia minimum 35.400 tahun.
Hasil penelitian tersebut kemudian diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature pada 2014.
Penelitian itu menunjukkan bahwa tradisi membuat seni cadas di Sulawesi telah berlangsung setidaknya sekitar 40.000 tahun lalu. Temuan tersebut menjadi penting karena sebelumnya pembahasan mengenai kemunculan seni cadas manusia lebih banyak berpusat pada kawasan Eropa.
Bukan Sekadar Gambar di Dinding Gua
Cap tangan di Leang Timpuseng memperlihatkan bahwa manusia masa lalu tidak hanya memanfaatkan gua sebagai tempat berlindung.
Dinding gua juga menjadi ruang untuk meninggalkan tanda.
Cara pembuatannya sederhana jika dilihat dari hasil akhirnya. Tangan ditempelkan pada permukaan batu, kemudian pigmen disemprotkan atau ditiupkan di sekeliling tangan sehingga menghasilkan bentuk negatif telapak tangan.
Namun, jejak sederhana itu memiliki arti besar bagi penelitian prasejarah.
Usianya memberikan bukti bahwa manusia di kawasan Sulawesi telah mengenal praktik seni cadas pada masa yang sangat jauh dari kehidupan manusia modern.
Leang Timpuseng kemudian menjadi salah satu situs penting dalam penelitian mengenai sejarah seni cadas dan perkembangan perilaku manusia. Pemerintah melalui data Cagar Budaya juga mencatat situs tersebut sebagai salah satu lokasi penting di kawasan karst Maros.
Leang Timpuseng Berstatus Cagar Budaya
Leang Timpuseng tidak hanya dikenal dalam penelitian arkeologi.
Situs tersebut telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya peringkat kabupaten melalui Surat Keputusan Nomor 1227/KPTS/432/III/2017 pada 27 Maret 2017. Lokasinya berada di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Situs ini pertama kali ditemukan masyarakat pada 1989 dan kemudian dilaporkan kepada instansi pelestarian peninggalan sejarah dan purbakala. Pendataan dilakukan pada 1992, sementara penelitian arkeologi lebih lanjut berlangsung pada tahun-tahun berikutnya.
Leang Timpuseng juga berada dalam lanskap karst Maros-Pangkep yang dikenal memiliki banyak gua dengan tinggalan arkeologi.
Karena itu, nilai situs tersebut tidak hanya berada pada satu gambar di dinding gua. Leang Timpuseng menjadi bagian dari kawasan yang memperlihatkan panjangnya sejarah keberadaan manusia dan aktivitas budayanya di Sulawesi Selatan.
Warisan yang Harus Dilindungi
Usia yang sangat tua membuat seni cadas di Leang Timpuseng menghadapi tantangan pelestarian.
Penelitian mengenai kondisi seni cadas di kawasan Maros-Pangkep menemukan adanya proses kerusakan pada permukaan gua, termasuk pembentukan kristal garam yang dapat memengaruhi lapisan batu tempat gambar berada. Leang Timpuseng termasuk situs yang menjadi objek penelitian tersebut.
Artinya, peninggalan yang mampu bertahan selama puluhan ribu tahun tidak otomatis akan aman untuk puluhan ribu tahun berikutnya.
Pelestarian menjadi bagian penting agar jejak manusia masa lalu tersebut tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Bagi wisatawan yang mencari wisata sejarah di Maros, Leang Timpuseng menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi wisata alam pada umumnya.
Di tempat ini, yang dilihat bukan sekadar bentang karst atau dinding batu. Ada jejak manusia yang dibuat puluhan ribu tahun lalu dan masih bertahan hingga sekarang.
Satu cap tangan di dinding Leang Timpuseng pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar gambar. Ia menjadi bukti bahwa jauh sebelum sejarah ditulis, manusia telah meninggalkan tanda tentang keberadaannya di Sulawesi Selatan.
