Maros, Katasulsel.com – Bantimurung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, punya satu identitas yang sulit dipisahkan dari namanya: kupu-kupu.
Kawasan ini dikenal dengan julukan The Kingdom of Butterfly. Julukan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Bantimurung menjadi habitat ratusan jenis kupu-kupu dan memiliki bentang alam karst, hutan, sungai, air terjun, serta gua yang membentuk ekosistem khas.
Yang menarik, reputasi Bantimurung sebagai kerajaan kupu-kupu sudah berakar sejak abad ke-19. Kawasan ini pernah menjadi bagian dari perjalanan penelitian Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris yang menjelajahi Maros pada 1857.
Jejak Wallace di Bantimurung
Wallace mengunjungi Bantimurung pada 19-22 September 1857. Dalam perjalanan penelitiannya di wilayah Maros dan sekitarnya, ia mengumpulkan 232 jenis Lepidoptera.
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan.
Wallace tidak pernah menulis Bantimurung dengan julukan The Kingdom of Butterfly dalam catatan maupun bukunya. Julukan tersebut muncul kemudian dan melekat pada Bantimurung karena kekayaan kupu-kupu yang ditemukan di kawasan tersebut. Hal ini ditegaskan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dalam catatan resminya mengenai sejarah julukan tersebut.
Dalam The Malay Archipelago, Wallace menggambarkan pengalamannya melihat kupu-kupu di sekitar kawasan Bantimurung. Ia juga menaruh perhatian pada kelimpahan kupu-kupu di kawasan lembap dan sekitar aliran air.
Catatan perjalanan tersebut ikut membawa Bantimurung ke dalam sejarah penelitian keanekaragaman hayati Sulawesi.
285 Jenis Kupu-Kupu Telah Teridentifikasi
Kekayaan kupu-kupu Bantimurung bukan sekadar cerita lama.
Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mencatat 285 spesies kupu-kupu dari superfamily Papilionoidea telah teridentifikasi di kawasan taman nasional hingga akhir 2025.
Jumlah tersebut terus bertambah melalui kegiatan identifikasi dan pemantauan yang dilakukan pengelola kawasan. Pada 2010, misalnya, baru tercatat 133 spesies. Angkanya kemudian meningkat menjadi 193 spesies pada 2011, 226 spesies pada 2012, dan 242 spesies pada 2015.
Pada 2024, daftar tersebut meningkat menjadi 283 spesies. Dua spesies baru yang teridentifikasi pada 2025 kemudian membuat jumlahnya mencapai 285 spesies.
Angka tersebut menjelaskan mengapa kupu-kupu menjadi salah satu identitas utama Bantimurung.
Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga mencatat sejumlah jenis yang menjadi bagian penting dari keanekaragaman hayati kawasan, termasuk Troides helena, Troides haliphron, Troides hypolitus, dan Cethosia myrina.
Kupu-Kupu Tidak Datang Sendiri
Kekayaan kupu-kupu Bantimurung tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungannya.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki bentang alam karst yang luas. Balai taman nasional mencatat sekitar 22.800 hektare kawasan taman nasional merupakan ekosistem karst.
Karst tersebut membentuk lanskap berupa bukit-bukit kapur, lembah, sungai, dan gua. Kawasan ini juga menjadi bagian dari sistem ekologi yang mendukung keberadaan berbagai jenis flora dan fauna.
Di kawasan wisata Bantimurung terdapat air terjun yang menjadi salah satu tujuan utama pengunjung. Tidak jauh dari kawasan tersebut terdapat Telaga Kassi Kebo.
Telaga Kassi Kebo memiliki hubungan erat dengan cerita tentang kupu-kupu Bantimurung. Balai taman nasional menyebut kawasan tersebut sebagai salah satu lokasi yang dapat memperlihatkan aktivitas kupu-kupu dalam jumlah banyak, terutama pada waktu tertentu.
Pengunjung dapat mencapai telaga tersebut dengan berjalan sekitar satu kilometer dari kawasan air terjun.
Kondisi lembap di sekitar air dan vegetasi menjadi bagian penting dari habitat kupu-kupu. Karena itu, keberadaan kupu-kupu tidak bisa dipisahkan dari keberadaan hutan, sungai, tumbuhan pakan, dan kondisi ekologis kawasan.
Ada Musim Ketika Kupu-Kupu Lebih Mudah Ditemui
Bantimurung tidak selalu dipenuhi kupu-kupu dalam jumlah yang sama setiap hari.
Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mencatat bahwa kemunculan kupu-kupu dalam jumlah banyak berkaitan dengan kondisi tertentu, termasuk masa peralihan musim.
Petugas pengelola Telaga Kassi Kebo menyebut periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau maupun sebaliknya sebagai salah satu waktu ketika aktivitas kupu-kupu lebih mudah terlihat.
Kupu-kupu juga lebih aktif pada waktu tertentu. Di sekitar Telaga Kassi Kebo, aktivitas tersebut dilaporkan terlihat terutama pada pagi hingga siang hari.
Karena itu, pengalaman melihat kupu-kupu di Bantimurung tidak semata-mata bergantung pada keberadaan spesiesnya. Waktu kunjungan dan kondisi lingkungan juga berpengaruh.
Di Balik Kupu-Kupu, Ada Karst dan Gua
Bantimurung memiliki kekayaan alam yang jauh lebih luas daripada kupu-kupu.
Ekosistem karst di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung membentuk jaringan gua dengan karakteristik yang beragam. Data Balai Taman Nasional mencatat ratusan gua telah ditemukan di kawasan tersebut, termasuk gua alam dan gua prasejarah.
Kehadiran gua menjadi bagian penting dari ekosistem karst. Di dalamnya terdapat proses geologi yang berlangsung dalam waktu panjang, sekaligus habitat bagi sejumlah organisme yang telah beradaptasi dengan lingkungan bawah tanah.
Kawasan ini juga memiliki beragam satwa lain. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mencatat keberadaan monyet hitam Sulawesi atau Macaca maura, tarsius, julang Sulawesi, serta sejumlah jenis kupu-kupu yang menjadi bagian dari kekayaan hayati kawasan.
Dengan demikian, kupu-kupu merupakan salah satu pintu untuk memahami kekayaan ekologis Bantimurung. Di belakangnya terdapat ekosistem yang lebih besar.
Dari Tempat Penelitian Menjadi Kawasan Konservasi
Perjalanan Bantimurung sebagai kawasan yang dikenal karena kupu-kupu berlangsung lebih dari satu abad.
Setelah masa eksplorasi Wallace, kawasan Bantimurung terus menjadi perhatian dalam penelitian dan pengelolaan lingkungan. Pemerintah kemudian menetapkannya sebagai kawasan konservasi dengan berbagai perubahan status pengelolaan.
Pada 18 Oktober 2004, kawasan Bantimurung-Bulusaraung ditetapkan sebagai taman nasional. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung kemudian menjadi salah satu kawasan konservasi penting di Sulawesi Selatan.
Pengelolaan kawasan juga tidak hanya berfokus pada wisata.
Balai taman nasional melakukan identifikasi spesies, pemetaan habitat, pemantauan populasi, pembinaan habitat, penyadartahuan masyarakat, serta pengembangan sanctuary kupu-kupu. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga keberadaan spesies sekaligus mempertahankan ekosistem tempat mereka hidup.
Di Bantimurung, kupu-kupu akhirnya tidak hanya menjadi objek yang menarik perhatian wisatawan.
Ia menjadi bagian dari sejarah penelitian alam di Sulawesi, penanda kekayaan hayati kawasan, sekaligus salah satu alasan pentingnya menjaga ekosistem karst dan hutan yang menjadi habitatnya.
