Sidrap, Katasulsel.com — Menjelang Iduladha, pasar selalu punya bahasa sendiri. Kadang ramai. Kadang tegang. Kadang membuat ibu rumah tangga mulai menghitung ulang isi dompet sebelum berbelanja.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang tidak ingin hanya menunggu laporan di atas meja.
Mereka turun langsung ke Pasar Rappang.
Di tengah denyut aktivitas pedagang dan pembeli, jajaran Pemkab Sidrap melakukan monitoring harga dan ketersediaan bahan pokok sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi lonjakan harga menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Pasar Rappang memang bukan sekadar tempat transaksi.
Ia adalah “panel indikator” ekonomi rakyat di kawasan Ajatappareng. Dari pasar ini, pemerintah bisa membaca suhu daya beli masyarakat. Bisa melihat apakah cabai mulai merangkak naik. Apakah bawang mulai menipis. Apakah beras masih aman.
Dan jelang hari besar keagamaan, denyut pasar biasanya berubah lebih cepat dibanding hari biasa.
Pemerintah daerah tampaknya sadar, inflasi tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir pelan-pelan. Dimulai dari kenaikan harga cabai, disusul bawang, lalu minyak goreng dan telur.
Karena itu, pengawasan pasar kini menjadi strategi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Pemkab Sidrap bahkan menggabungkan langkah monitoring dengan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk memastikan stok pangan tetap tersedia dengan harga yang masih terjangkau masyarakat.
Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah, sebelumnya menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah agar masyarakat dapat menjalani Iduladha tanpa tekanan harga yang berlebihan.
Yang menarik, pola pengawasan seperti ini mulai menjadi gaya baru pemerintahan daerah.
Tidak lagi hanya menunggu grafik inflasi dari pusat statistik, tetapi membaca langsung situasi di lapangan. Berdialog dengan pedagang. Mendengar keluhan pembeli. Memastikan distribusi bahan pokok tetap lancar.
Dalam istilah ekonomi daerah, langkah itu disebut “early warning system” pangan. Pemerintah mencoba mendeteksi gejolak sejak awal sebelum harga benar-benar melonjak di pasaran.
Apalagi Iduladha selalu identik dengan peningkatan konsumsi masyarakat.
Permintaan daging naik. Bumbu dapur ikut terdorong. Aktivitas belanja meningkat. Jika distribusi terganggu sedikit saja, harga bisa bergerak cepat.
Karena itu, Pasar Rappang kini bukan hanya ruang jual beli.
Ia berubah menjadi titik strategis pengendalian inflasi Sidrap.
Dan di tengah tantangan ekonomi yang terus bergerak dinamis, langkah turun langsung ke pasar menjadi pesan penting: pemerintah ingin memastikan denyut ekonomi rakyat tetap stabil hingga hari raya tiba. (*)
