Sidrap, katasulsel.com — Di balik tembok tinggi Rutan Kelas IIB Sidrap, satu nyawa hilang. Tapi yang tertinggal bukan sekadar duka.

Teka-teki.

Muhammad Taufik, seorang napi asal Gowa, dinyatakan meninggal dunia. Versi resmi: bunuh diri. Tapi bagi keluarga, cerita itu terasa terlalu cepat… dan terlalu rapi.

Jenazah Itu “Berbicara”

Semua berubah saat kain kafan dibuka.

Bukan hanya satu luka. Tapi banyak.

Lebam di punggung. Luka di kepala. Bibir pecah. Bahkan bekas jeratan di leher yang disebut tidak sesuai dengan klaim gantung diri menggunakan sarung.

Di titik itu, keluarga mulai meragukan satu hal paling mendasar:
benarkah ini bunuh diri?

Apalagi, muncul cerita lain dari dalam rutan. Bukan dari petugas. Tapi dari sesama tahanan.

Advertisement

Disebut-sebut, korban sempat mengalami kekerasan selama dua hari sebelum akhirnya meninggal.

Dua Versi, Satu Kematian

Pihak rutan tetap pada satu kesimpulan: tidak ada penganiayaan. Korban disebut mengakhiri hidupnya sendiri.

Namun di sisi lain, keluarga melihat terlalu banyak celah:

  • Luka tubuh yang tidak wajar
  • Bekas jeratan yang dinilai janggal
  • Informasi kematian yang datang terlambat
  • Tidak adanya penjelasan utuh sejak awal

Bahkan, sebelum meninggal, korban masih sempat berkomunikasi dengan keluarga dan terdengar dalam kondisi baik.

Kontradiksi ini yang membuat kasusnya tidak lagi sederhana.

Ini bukan hanya soal kematian. Ini soal versi mana yang benar.

Dari Ikhlas ke Curiga

Awalnya, keluarga sempat menerima. Bahkan menolak autopsi.

Tapi itu sebelum mereka melihat langsung kondisi jenazah.

Setelahnya, sikap berubah. Dari ikhlas… menjadi curiga. Dari pasrah… menjadi perlawanan.

Advertisement

Langkah pun diambil: laporan resmi dilayangkan ke Polda Sulawesi Selatan.

Kasus ini kini masuk fase baru.

Analisis: Ketika Tembok Jadi Tertutup, Kepercayaan Ikut Runtuh

Kematian di dalam rutan selalu sensitif. Tapi kasus ini punya tiga lapisan serius:

Pertama, krisis transparansi.
Perbedaan versi antara rutan dan keluarga membuka ruang ketidakpercayaan. Tanpa autopsi awal, ruang abu-abu makin lebar.

Kedua, potensi kekerasan yang sulit dibuktikan.
Jika benar ada penganiayaan, maka ini bukan kasus biasa. Ini menyangkut sistem pengawasan di dalam rutan.

Ketiga, komunikasi yang gagal.
Keterlambatan informasi dan minimnya penjelasan membuat keluarga merasa ditinggalkan—bukan dilibatkan.

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.