Surabaya, Katasulsel.com – PSM Makassar pulang tanpa poin dari markas Persebaya Surabaya. Skor 0-1 dalam lanjutan Super League Indonesia di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu (25/2/2026) malam WIB, memang pahit.
Tapi kekalahan ini bukan cerita tentang PSM yang tak berdaya.
Juku Eja tumbang hanya karena satu momen. Satu tembakan keras dari luar kotak penalti yang dilepaskan Paulo Gali Freitas pada menit ke-27. Sepakan itu menghujam pojok kanan gawang. Sulit dijangkau.
Selebihnya? PSM tidak benar-benar runtuh.
Sejak awal laga, Persebaya menekan. Atmosfer GBT panas. Tuan rumah percaya diri. Namun lini belakang PSM masih cukup disiplin meredam gelombang serangan.
Memasuki babak kedua, perubahan terlihat. Intensitas PSM meningkat. Penguasaan bola lebih berani. Serangan mulai terbangun lebih rapi.
Puncaknya datang di menit ke-87.
Sundulan Yuran nyaris membungkam stadion. Gawang hampir kosong. Publik tuan rumah sempat terdiam sepersekian detik. Namun bola melambung tipis di atas mistar.
Itulah ironi laga ini.
PSM kalah. Tapi hampir mencuri satu poin di ujung pertandingan.
Pelatih Tomas Trucha terlihat mencoba merespons cepat tekanan tuan rumah. Pergantian pemain memberi energi baru. Sayangnya, efektivitas akhir belum berpihak.
Dengan hasil ini, PSM tertahan di peringkat 13 dengan 23 poin. Posisi yang belum aman, tapi juga belum kritis. Kompetisi masih panjang. Selisih poin di papan tengah relatif rapat.
Kekalahan di Surabaya lebih terasa sebagai soal detail. Bukan soal kualitas keseluruhan.
PSM tidak dihajar.
PSM tidak didominasi habis-habisan.
Mereka kalah oleh satu momen.
Dan di kompetisi seketat Super League, satu momen memang bisa menentukan segalanya. (*)


Tinggalkan Balasan