Syaharuddin memilih hadir. Menghabiskan sebagian besar waktunya di lapangan, menyerap aspirasi tanpa sekat protokoler yang kaku.

Dari 11 kecamatan, ia membaca langsung kebutuhan. Dari percakapan warga, ia merumuskan kebijakan.

Pendekatan ini menjadikan pembangunan terasa lebih personal—lebih dekat, lebih nyata.

Sejumlah program prioritas pun berjalan dalam satu orkestrasi: layanan kesehatan gratis, penguatan pendidikan, distribusi pupuk yang lebih terjaga, listrik masuk sawah, pengembangan UMKM, hingga ruang bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai wirausaha.

Semua dirajut dalam satu visi: Sidrap yang berdaya dan bermartabat.

Advertisement

Namun Syaharuddin memahami, setahun pertama adalah tentang membangun fondasi.

Puncaknya belum di sini.

Ia menatap ujung masa jabatan sebagai titik pembuktian—ketika kesejahteraan tidak lagi menjadi janji, tetapi realitas yang merata.

“Pada akhirnya, yang ingin kita lihat adalah masyarakat yang benar-benar merasakan perubahan,” ucapnya.

Sidrap hari ini sedang menulis bab baru.

Advertisement

Bukan dengan gegap gempita, tetapi dengan kerja yang perlahan menguat.

Sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya tumbuh—tetapi juga mengangkat martabat.(*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.