Sidrap, Katasulsel.com — Setahun bukan waktu yang panjang dalam siklus pembangunan. Namun bagi Syaharuddin Alrif dan Nurkanaah, periode ini menjadi fase penting: meletakkan fondasi, membangun kepercayaan, sekaligus mengubah arah.
Di ruang yang sama dengan para jurnalis, Syaharuddin tidak sekadar menyampaikan capaian. Ia mencoba merangkai makna—bahwa pembangunan bukan hanya soal angka, melainkan tentang bagaimana angka itu hidup di tengah masyarakat.
Indeks Pembangunan Manusia kini berada di 75,49 poin. Pertumbuhan ekonomi menyentuh 7,71 persen—tertinggi di Sulawesi Selatan. Angka kemiskinan turun ke 4,91 persen.
Data itu bicara.
Namun Sidrap ingin melangkah lebih jauh dari sekadar statistik.
Di akar rumput, denyut ekonomi bergerak dari sektor yang paling membumi: pertanian dan peternakan. Program IP300 mempercepat siklus tanam, menguatkan produksi padi dan jagung. Di sisi lain, gagasan besar lumbung telur 10 juta butir terus dirawat sebagai simbol kemandirian pangan sekaligus kekuatan ekonomi lokal.
Di sanalah narasi baru dibangun.
Bahwa Sidrap bertumbuh dari kerja keras—dari tangan petani, dari kandang peternak, dari geliat pelaku usaha kecil.
“Ini adalah ekonomi yang lahir dari kerja nyata masyarakat,” ujar Syaharuddin, menegaskan arah yang ingin dijaga.
Namun kepemimpinan tidak hanya diuji oleh capaian, melainkan juga oleh kesadaran akan keterbatasan.
Syaharuddin tidak menutup fakta bahwa kapasitas fiskal daerah belum cukup menopang seluruh ambisi pembangunan. Dari sinilah strategi kolaborasi menjadi pilihan.
Pintu-pintu provinsi hingga pusat diketuk. Lobi dijalankan. Sinkronisasi program diperkuat.
Sebuah pendekatan yang menempatkan pemerintah daerah bukan sekadar pelaksana, tetapi juga negosiator kepentingan rakyat.
Hasilnya mulai terlihat—pada jalan yang kian mulus, akses pertanian yang terbuka, hingga program sosial yang menjangkau lebih luas.
Namun ada satu hal yang membedakan gaya kepemimpinan ini: kedekatan.
Bersambung…
Syaharuddin memilih hadir. Menghabiskan sebagian besar waktunya di lapangan, menyerap aspirasi tanpa sekat protokoler yang kaku.
Dari 11 kecamatan, ia membaca langsung kebutuhan. Dari percakapan warga, ia merumuskan kebijakan.
Pendekatan ini menjadikan pembangunan terasa lebih personal—lebih dekat, lebih nyata.
Sejumlah program prioritas pun berjalan dalam satu orkestrasi: layanan kesehatan gratis, penguatan pendidikan, distribusi pupuk yang lebih terjaga, listrik masuk sawah, pengembangan UMKM, hingga ruang bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai wirausaha.
Semua dirajut dalam satu visi: Sidrap yang berdaya dan bermartabat.
Namun Syaharuddin memahami, setahun pertama adalah tentang membangun fondasi.
Puncaknya belum di sini.
Ia menatap ujung masa jabatan sebagai titik pembuktian—ketika kesejahteraan tidak lagi menjadi janji, tetapi realitas yang merata.
“Pada akhirnya, yang ingin kita lihat adalah masyarakat yang benar-benar merasakan perubahan,” ucapnya.
Sidrap hari ini sedang menulis bab baru.
Bukan dengan gegap gempita, tetapi dengan kerja yang perlahan menguat.
Sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya tumbuh—tetapi juga mengangkat martabat.(*)

