Jakarta, katasulsel.com — Penutupan Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, diprediksi menimbulkan gejolak energi global yang langsung terasa di Indonesia. Harga minyak dunia melonjak ±10% ke level US$80 per barel, memicu potensi kenaikan harga BBM dalam negeri dan membengkak subsidi energi, sehingga defisit APBN berisiko naik.
Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, sangat rentan. Inflasi transportasi dan logistik akan naik, harga barang kebutuhan pokok terdorong, dan daya beli masyarakat tertekan.
Selain itu, gangguan distribusi di jalur komoditas global bisa membuat biaya impor bahan baku industri melambung, memperumit rantai pasok nasional.
Presiden Prabowo Subianto menekankan langkah efisiensi ala “Pakistan Model” sebagai antisipasi. Ia mencontohkan, saat krisis, Pakistan melakukan WFH 50%, mengurangi hari kerja, memangkas gaji pejabat, menahan belanja BBM, AC, kendaraan, hingga mebel untuk lembaga pemerintah, dan mengalihkan anggaran untuk membantu kelompok rentan.
Prabowo yakin langkah efisiensi serupa bisa menjaga defisit APBN tetap di bawah target 3% dari
Kenaikan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah juga menuntut pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional, mulai dari diversifikasi energi, percepatan transisi ke energi terbarukan dan gas domestik, penguatan cadangan energi, hingga efisiensi transportasi publik.
Strategi ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak harga global.
Para ekonom menekankan istilah “shock minyak”, yakni kondisi di mana harga minyak dunia tiba-tiba melonjak, akan menjadi ujian bagi APBN Indonesia. Jika tidak dikelola, efeknya bisa berlapis: dari tekanan fiskal, inflasi, hingga turunnya daya beli masyarakat.
Dengan risiko ini, langkah efisiensi ala Prabowo menjadi perhatian utama. Menurutnya, pengalaman pandemi Covid-19 menunjukkan penghematan konsumsi BBM dan efisiensi kerja bisa signifikan membantu APBN, sekaligus menekan inflasi. “Kita harus siap skenario terburuk, tapi tetap optimistis agar APBN tetap sehat,” tegasnya. (*)

Tinggalkan Balasan