📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Ada enam target prioritas yang dipasang hingga 2026. Pertama, peningkatan kualitas SDM—pendidikan, kesehatan, hingga religiusitas masyarakat. Kedua, penguatan ekonomi berbasis agropolitan. Ketiga, pembangunan infrastruktur dasar. Keempat, kemandirian pangan. Kelima, reformasi birokrasi. Keenam, penguatan budaya dan kearifan lokal.

Enam agenda itu bukan daftar pendek. Ia adalah paket komprehensif.

Ekonomi berbasis agropolitan menjadi kata kunci. Soppeng bukan daerah industri berat. Kekuatan utamanya ada pada pertanian, UMKM, kebudayaan, dan potensi pariwisata. Mengintegrasikan sektor-sektor itu dengan sentuhan teknologi adalah tantangan besar.

Bahasa sederhananya: petani tidak boleh lagi berjalan sendirian. UMKM tidak boleh stagnan di pola lama. Pariwisata harus dikemas dengan narasi budaya yang kuat.

Jika agropolitan ini benar-benar digarap serius, Soppeng bisa menjadi model kabupaten yang tidak kehilangan identitas lokal, tetapi tetap adaptif dengan zaman.

Infrastruktur juga menjadi prioritas. Pemerataan akses jalan, air bersih, dan penanggulangan bencana masuk dalam radar. Tidak ada daerah maju tanpa infrastruktur memadai. Jalan rusak bukan hanya soal aspal, tapi soal ekonomi yang tersendat.

Air bersih bukan sekadar utilitas, tapi martabat hidup.

Dan di tengah ancaman perubahan iklim, mitigasi bencana bukan lagi isu sampingan. Ia harus masuk dalam desain pembangunan.

Kemandirian pangan menjadi agenda strategis lainnya. Pengelolaan pertanian, peternakan, dan perikanan diarahkan pada peningkatan nilai tambah. Bukan sekadar produksi mentah, tapi hilirisasi sederhana yang memberi dampak ekonomi lebih besar.

Soppeng tidak boleh hanya menjadi produsen bahan baku. Ia harus belajar menjadi produsen nilai.