MAKASSAR, katasulsel.com — Angka Rp2 miliar itu keburu viral. Helikopter ikut terbawa. Nama pejabat diseret. Narasi jadi liar.

Padahal, kata pemerintah: itu tidak pernah ada.

Plt Kadis Kominfo-SP Pemprov Sulsel, Muhammad Salim Basmin, bicara lugas. Tidak ada anggaran. Tidak ada realisasi. Tidak ada sewa helikopter dari APBD.

Selesai?

Belum.

Karena di era sekarang, yang pertama dipercaya bukan klarifikasi. Tapi cerita yang lebih dulu sampai.

Masalahnya bukan di Rp2 miliarnya.

Masalahnya di ruang kosong.

Publik melihat helikopter. Lalu menghubungkannya dengan uang negara. Itu refleks. Wajar. Apalagi jika penjelasan tidak datang sejak awal.

Pemprov memang bilang: helikopter itu tidak dibiayai APBD.

Tapi kalimat itu justru menyisakan satu lubang: kalau bukan dari APBD, dari mana?

Di situlah spekulasi tumbuh.

Dan spekulasi, di zaman media sosial, lebih cepat menyebar daripada fakta.

Ini pola lama.

Ambil tiga bahan: angka besar, fasilitas mewah, pejabat publik.

Campur.

Hasilnya: viral.

Rp2 miliar itu angka yang mudah memancing emosi. Helikopter itu simbol kemewahan. Kombinasinya sempurna untuk memantik kecurigaan.

Tak perlu data lengkap. Narasi sudah cukup.

Pemprov Sulsel tidak tinggal diam.

Langsung bantah. Lalu naik satu tingkat: langkah hukum.

Beberapa media yang dianggap menyebarkan informasi tidak benar mulai diproses. Pesannya jelas: ada batas.

Tapi di titik ini, persoalan menjadi lebih dalam.

Apakah semua yang salah itu hoaks?

Atau ada yang sekadar keliru?

Dunia jurnalistik tidak steril. Kecepatan sering mengalahkan verifikasi. Sumber kadang belum matang. Data belum utuh.

Di situ ada wilayah abu-abu.

Dan wilayah abu-abu ini yang sering jadi medan konflik antara pemerintah dan media.

Pemprov juga bilang: media adalah pilar demokrasi.

Betul.

Tapi pilar itu berdiri di dua sisi.

Satu sisi: media harus akurat.

Sisi lain: pemerintah harus transparan.

Kalau salah satu timpang, bangunannya goyah.

Kasus ini menunjukkan itu.

Bisa jadi bukan semata karena berita yang keliru.

Bisa jadi juga karena informasi yang terlambat.

Pelajaran dari sini sederhana, tapi mahal.

Bagi pemerintah: jangan tunggu isu membesar baru bicara. Jelaskan sejak awal, sejelas mungkin.

Bagi media: cepat itu penting. Tapi benar jauh lebih penting.

Bagi publik: tidak semua yang ramai itu fakta.

Helikopter Rp2 miliar itu mungkin tidak pernah ada.

Tapi dampaknya nyata.

Opini sudah terbentuk. Kecurigaan sudah terlanjur hidup.

Dan seperti biasa, membangun kepercayaan jauh lebih sulit daripada menyebarkan satu kabar.

Apalagi di zaman sekarang.

Satu cerita bisa terbang lebih jauh—dan lebih cepat—dari helikopter mana pun. (*)

Gambar berita Katasulsel