JAKARTA — Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) kembali mencuri perhatian Sulawesi Selatan, bahkan Indonesia.
Dengan pertumbuhan ekonomi 7,71 persen pada 2025, Sidrap menyalip Luwu dan Wajo, membuktikan daerah agraris pun bisa melesat tanpa kota besar atau industri raksasa.
Di era kepemimpinan Bupati Syaharuddin Alrif (SAR), Sidrap bukan hanya bertumbuh, tapi tampil percaya diri.
Produksi pertanian meningkat, perdagangan lokal bergerak lebih cepat, dan UMKM jadi penguat rantai ekonomi. Hasilnya, roda ekonomi berputar lebih gesit, tanpa tergantung ledakan sesaat.
Fenomena Sidrap menjadi perhatian pengamat. Ekonom Nahdlatul Ulama, Dr. Muhammad Aras Prabowo, menilai capaian 7,71 persen itu bukan angka biasa.
Sidrap menunjukkan bagaimana fondasi ekonomi lokal—pertanian, perdagangan, UMKM—dapat dikombinasikan menjadi mesin pertumbuhan nyata.
Yang menarik, pertumbuhan Sidrap bukan sekadar kuantitas. Ada pergerakan nilai tambah, penguatan UMKM, dan ekosistem ekonomi yang saling menopang.
Kota-kota lain yang stagnan di angka lima persen bahkan kurang dari empat persen, kini menoleh pada Sidrap sebagai contoh outperforming growth.
Sidrap era SAR jadi simbol daerah berbasis kerakyatan yang mampu mengubah potensi menjadi performa nyata.
Semua sektor ikut terdorong: produksi, perdagangan, jasa, hingga transportasi. Ekosistem ini membuat Sidrap tampil sebagai juara ekonomi, sekaligus memberi pesan penting: pertumbuhan itu harus dijaga ritmenya.
Pengamat menekankan, keberhasilan Sidrap bukan sekadar soal angka, tapi soal konsistensi dan manajemen yang presisi.
Sisa pekerjaan Sidrap adalah menjaga ritme pertumbuhan agar angka 7,71 persen tidak hanya menjadi catatan sejarah, tapi pijakan untuk melesat lebih jauh.
Di panggung Sulawesi Selatan, Sidrap kini disebut lebih dulu. Bukan hanya sebagai lumbung pangan, tapi contoh daerah yang mampu mengubah potensi lokal menjadi ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan