📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppSidrap, katasulsel.com — Di Sidrap, politik tak lagi sebatas seremoni pelantikan dan spanduk ucapan selamat. Dalam setahun terakhir—Februari 2025 hingga Februari 2026—kepemimpinan Syaharuddin Alrif dan Nurkanaah (SAR–KANAAH) memilih jalur akselerasi. Cepat. Terukur. Dan langsung menyentuh publik.
Kalau mau diringkas dalam satu kalimat: ini pemerintahan yang tidak menunggu lama untuk bergerak.
30 Hari Pertama: Gas Pol dari Awal
Biasanya, kepala daerah butuh waktu untuk “pemanasan”. Tapi SAR–KANAAH justru membuka periode dengan gebrakan.
BPJS gratis langsung diluncurkan. Pesannya tegas: kesehatan bukan barang mewah. Program ini menjadi shock therapy di awal pemerintahan. Publik merasakan kehadiran negara tanpa birokrasi berbelit.
Lalu ada program Hunian Layak bekerja sama dengan Baznas. Bukan sekadar bedah rumah simbolik, tapi upaya sistematis menyentuh warga kurang mampu. Di sini, pendekatan sosial dan keagamaan diramu menjadi satu.
Yang paling strategis: Listrik Masuk Sawah bersama PLN. Ini bukan proyek biasa. Ini game changer bagi petani. Dengan listrik di area persawahan, produktivitas meningkat, biaya operasional turun, dan modernisasi pertanian bukan lagi mimpi.
Bahasa populernya: petani tidak lagi berjalan dengan cangkul di era digital.
Pertumbuhan Ekonomi: Mesin Mulai Panas
Dalam laporan satu tahun, Bupati Syaharuddin menegaskan adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi. Angka memang penting. Tapi yang lebih penting adalah arah.
Penguatan sektor pertanian dan UMKM menjadi tulang punggung. Sidrap tetap bertumpu pada kekuatan lokalnya. Tidak muluk-muluk mengejar industrialisasi instan. Strateginya realistis: maksimalkan apa yang ada.
Bersambung…
Sinergi Forkopimda, kolaborasi dengan ulama, serta penguatan kegiatan keagamaan dan adat istiadat menjadi modal sosial. Ini bukan sekadar harmoni simbolik. Stabilitas sosial adalah fondasi ekonomi.
Sidrap tidak dibangun dengan gaduh. Ia dibangun dengan ritme.
23 Penghargaan: Prestasi atau Formalitas?
Sepanjang tahun pertama, Pemkab Sidrap mengoleksi 23 penghargaan tingkat nasional dan provinsi. Daftarnya tidak main-main: pendidikan, tata kelola pemerintahan, keuangan daerah, kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi transaksi keuangan, hingga integritas pelayanan publik.
Sebagian orang mungkin skeptis pada penghargaan. Tapi dalam tata kelola modern, pengakuan institusi eksternal adalah indikator bahwa sistem berjalan di rel yang benar.
Digitalisasi transaksi keuangan daerah misalnya, bukan sekadar adaptasi teknologi. Ia bicara soal transparansi dan akuntabilitas. Tata kelola yang rapi adalah pondasi investasi.
Sidrap sedang memoles wajah birokrasi agar lebih profesional.
Ringkas Tapi Tajam
Kalau dirangkum, capaian setahun SAR–KANAAH bisa dibaca dalam matriks sederhana:
Ekonomi: pertumbuhan meningkat, sektor pertanian dan UMKM diperkuat.
Kesehatan: BPJS gratis menyentuh langsung kebutuhan dasar.
Infrastruktur: listrik masuk sawah, hunian layak untuk warga.
Pemerintahan: 23 penghargaan, penguatan tata kelola dan digitalisasi.
Sosial-Budaya: kolaborasi ulama, kegiatan keagamaan, dan adat diperkuat.
Ini kombinasi antara program cepat yang impactful dan strategi jangka panjang yang sistematis.
Tantangan Tahun Kedua
Namun, politik akselerasi selalu punya risiko: ekspektasi publik ikut naik. Tahun pertama adalah momentum. Tahun kedua adalah ujian konsistensi.
Pertumbuhan ekonomi harus berbanding lurus dengan kesejahteraan riil. Program BPJS harus dijaga kualitas layanannya. Listrik masuk sawah harus diikuti peningkatan hasil panen. Penghargaan harus diterjemahkan menjadi pelayanan yang makin cepat dan bersih.
Bersambung…
Jika tidak, capaian bisa berubah menjadi euforia sesaat.
Refleksi satu tahun SAR–KANAAH menunjukkan satu pola: keberanian memulai dengan cepat dan membangun legitimasi melalui kerja nyata. Ini bukan kepemimpinan yang gemar berdebat di ruang publik, tetapi lebih sibuk mengeksekusi program.
Sidrap hari ini bergerak dalam tempo tinggi. Pertanyaannya tinggal satu: apakah akselerasi ini akan terus dijaga, atau melambat karena beban politik dan fiskal?
Sejarah kepemimpinan selalu ditentukan oleh konsistensi, bukan kecepatan awal.
Dan di Sidrap, mesin itu sudah menyala. Tinggal bagaimana ia dijaga agar tidak kehilangan tenaga. (edy)






Tinggalkan Balasan