Kedua: Pos Pengamanan Mudik Watang Pulu.
Terik matahari siang kian panas.
Tapi semangat Kapolda tetap mantap.
Ia meninjau personel, alat komunikasi, dan koordinasi unit.
Kapolres Fantry bergerak cepat. Memberi arahan.
Setiap unit tahu tugas.
Setiap alat siap pakai.
Saya berdiri di samping mereka. Merasakan energi itu.
Kapolda bertanya ke anggota Lantas:
“Kalau terjadi kepadatan mendadak, apa prosedurnya?”
Jawaban cepat, tegas.
Kapolda tersenyum.
Saya ikut tersenyum.

Di dua pos ini, saya mencatat hal-hal kecil tapi penting:
- Command center digital, memantau arus mudik real-time.
- Titik rawan kemacetan sudah dianalisis.
- Personel mendapat arahan moral dan teknis.
Saya melihat Kapolres Fantry bergerak dari satu pos ke pos lain.
Ia memastikan semua unit bekerja sesuai skema.
Tidak ada formalitas kosong.
Tidak ada basa-basi.
Semua nyata.
Rombongan Kapolda tampak Karo Ops KBP Bambang Widjarko, Kabid Propam KBP Zulham Efendi, Dirlantas KBP Pria Budi, dan Kabid Humas KBP Didik Supranoto.
Mereka memastikan koordinasi lancar.
Saya berada di tengah, menyaksikan.
Teknologi, strategi, dan manusia berpadu.
Seperti mesin yang dikalibrasi sempurna.
Saya menulis sambil berjalan.
Kadang berhenti sebentar.
Mengamati.
Mencatat ekspresi.
Sidrap bukan sekadar lintasan arus mudik.
Sidrap menjadi barometer kesiapan Lebaran di Sulsel.
Pilihan Kapolda meninjau Sidrap jelas: daerah ini diperhitungkan. Diperhatikan. Dihargai.
Dari pos ke pos, dari pengecekan logistik hingga pemantauan digital, saya melihat aksi nyata, bukan kata-kata.
Kapolda datang, meninjau, menilai.
Polres bekerja maksimal.
Warga bisa mudik aman, tertib, dan nyaman.
Saya menyadari: Sidrap memberi pelajaran sederhana.
Siap itu bukan slogan.
Siap itu tindakan.



Tinggalkan Balasan