Tapi ia punya sawah yang tak pernah berhenti bekerja. Ia tidak punya kapal pesiar. Tapi ia punya perahu kecil yang tahu arah pulang.

Satire terbesar tentang Sidrap mungkin justru datang dari luar: bahwa daerah tanpa laut dianggap kurang lengkap. Padahal, mungkin justru daerah yang terlalu dekat dengan lautlah yang sering lupa daratan.

Sidrap tidak.

Ia tahu persis di mana kakinya berpijak.

Danau Sidenreng mengajarkan itu setiap hari.

Bahwa hidup tidak selalu tentang pergi jauh. Kadang tentang bertahan. Tentang merawat yang ada. Tentang tidak iri pada ombak, karena ketenangan pun punya harga.

Sidrap tak punya laut.

Dan mungkin, justru karena itu, ia tahu caranya tetap utuh.

Di Sidrap, laut adalah sesuatu yang selalu dibicarakan tapi tidak pernah benar-benar datang. Ia seperti tamu yang namanya sering disebut dalam undangan, tetapi kursinya selalu kosong.

Orang Sidrap tahu rasanya asin dari garam dapur, bukan dari angin sore.

Karena itu, imajinasi tentang laut tumbuh liar. Anak-anak membayangkan ombak setinggi rumah. Orang dewasa membayangkan pelabuhan yang ramai.

Para perencana membayangkan garis pantai yang seandainya ada, pasti bisa dimasukkan ke proposal.

Seandainya.

Kata itu sering muncul di Sidrap.

Seandainya Sidrap punya laut, mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi Sidrap tidak dibangun dari seandainya. Ia dibangun dari yang ada.

Daerah pesisir punya politiknya sendiri. Dinamis. Cepat berubah. Seperti ombak. Sidrap tidak. Politik di sini bergerak seperti air danau—perlahan, tetapi dalam.

Tidak mudah berganti arah hanya karena angin sesaat.

Di Sidrap, orang memilih bukan karena janji paling keras, melainkan karena ingatan paling panjang. Siapa yang pernah datang saat panen gagal. Siapa yang hilang setelah kampanye selesai. Semua dicatat, meski tidak pernah ditulis.

Danau Sidenreng mengajarkan satu pelajaran politik yang jarang diajarkan di kampus: stabilitas bukan berarti stagnasi. Ia berarti tahu kapan harus bergerak dan kapan harus diam.

Ada yang bilang Sidrap tertinggal karena tidak punya laut. Padahal, barangkali Sidrap hanya tidak sibuk mengejar simbol. Ia tidak punya pantai untuk difoto, tapi ia punya beras yang dimakan.

Dalam dunia yang gemar memamerkan, Sidrap tampak kikuk. Ia tidak pandai menjual diri. Ia tidak berisik. Ia bekerja dalam diam.

Dan mungkin, itu justru satire paling pahit: bahwa yang paling penting sering kali tidak paling terlihat.

Danau Sidenreng menyimpan lebih banyak cerita daripada yang terlihat di permukaannya. Ia ingat musim banjir.

Ia ingat kemarau panjang. Ia ingat anak-anak yang dulu mandi di tepinya, kini datang membawa anak mereka sendiri.

Laut membawa kapal pergi. Danau membawa ingatan pulang.

Sidrap tak punya laut. Tapi tidak semua yang bernilai harus asin. Ada rasa lain yang lebih lama tinggal di lidah: rasa sabar, rasa cukup, rasa pulang.

Danau Sidenreng tidak pernah bercita-cita menjadi laut. Ia hanya ingin tetap ada. Dan Sidrap, dengan segala keterbatasannya, belajar dari itu setiap hari. (*)