Sidrap tak punya laut. Titik.

Penulis: Edy Basri
Kalimat di atas, sering terdengar sederhana, bahkan nyaris seperti candaan.
Bila diucapkan sambil tersenyum, kadang dengan nada pasrah, kadang dengan nada menggoda diri sendiri.
Di Sulawesi Selatan, pernyataan itu seperti pengakuan jujur sekaligus sindiran sunyi: bahwa ada daerah yang sejak lahir memang tidak ditakdirkan mencium bau asin.
Di peta, Sidrap berada di tengah. Tidak di pinggir. Tidak menghadap apa pun selain daratan. Tidak ada ombak yang datang lalu pergi.
Juga, tidak ada nelayan yang pulang subuh dengan mata merah dan jaring basah. Tidak ada pelabuhan, tidak ada mercusuar, tidak ada cerita kapal karam yang bisa diwariskan dari generasi ke generasi.
Sidrap hanya punya danau.
Namanya Danau Sidenreng.
Danau itu tidak luas-luas amat jika dibandingkan danau-danau besar yang sering dipamerkan dalam brosur pariwisata nasional.
Tidak pula berlebihan. Hanya ada tebing-tebing yang tidak terlalu tinggi tapi cukup menggoda orang ingin berfoto sambil membentangkan tangan. Namanya Bukit Punjabu.
Yaa. Danau Sidenreng tenang. Kadang terlalu tenang, sampai orang mengira ia tidak sedang bercerita apa-apa.
Padahal, justru di situlah Sidrap hidup.
Saya pernah iri pada Parepare. Kota kecil di pesisir itu seperti anak yang sejak lahir sudah diberi mainan lengkap.
Laut di depan rumah. Angin asin setiap sore. Kapal datang dan pergi. Orang-orang bisa duduk di tepi pantai sambil membicarakan masa depan dengan pemandangan matahari tenggelam.
Wajo lebih beruntung lagi.
Ia seperti anak yang mendapat dua hadiah sekaligus. Punya Danau Tempe, punya laut juga.
Wajo seolah bisa berbicara tentang nelayan dan petani dalam satu tarikan napas. Bisa meromantisasi perahu dan sawah tanpa harus memilih salah satu.
Sidrap? Tidak.
Sidrap harus bekerja lebih keras untuk menemukan romantismenya sendiri.
Di Sidrap, laut adalah cerita pinjaman.
Anak-anak tahu laut dari televisi, dari buku pelajaran, atau dari cerita sepupu yang merantau ke Makassar. Laut menjadi sesuatu yang jauh, seperti mimpi yang hanya bisa disentuh saat libur panjang.
Tapi Sidrap tidak kekurangan air.
Danau Sidenreng adalah air yang memilih untuk diam.
Ia tidak bergerak ke mana-mana. Ia tinggal. Ia menetap. Ia setia.
Dalam dunia yang gemar bergerak cepat dan berpindah-pindah, danau seperti Danau Sidenreng justru tampak kuno. Terlalu sabar. Terlalu tidak ambisius.
Namun dari air yang diam itulah, Sidrap bertahan.
Pagi di sekitar danau tidak pernah tergesa-gesa. Perahu kecil meluncur tanpa mesin besar. Ikan tidak dikejar dengan drama. Mereka ditunggu.
Ditangkap secukupnya. Tidak ada teriakan lelang. Tidak ada aroma solar yang menyengat. Yang ada hanya percakapan pelan dan rutinitas yang berulang.
Ini bukan kisah heroik. Tidak ada konflik besar. Tidak ada bencana yang memaksa manusia dan alam saling menantang.
Danau Sidenreng mengajarkan Sidrap satu hal penting: hidup tidak selalu harus gaduh untuk bermakna.
Mungkin karena itu Sidrap sering luput dari perhatian.
Dalam percakapan pembangunan, daerah tanpa laut sering dianggap kurang seksi. Tidak ada potensi pelabuhan.
Tidak ada jalur logistik laut. Tidak ada wisata bahari yang bisa dijual dengan foto drone. Sidrap harus menjelaskan dirinya dua kali lebih panjang hanya untuk didengar.
“Sidrap itu apa?”
Pertanyaan itu sering datang dari orang luar. Dan jawaban paling aman biasanya: daerah pertanian.
Jawaban itu benar. Tapi tidak lengkap.
Sidrap memang tumbuh dari sawah. Dari padi. Dari tanah yang dibelah rapi oleh irigasi.
Dari matahari yang tahu betul kapan harus terik dan kapan harus memberi jeda. Tapi Sidrap juga tumbuh dari air yang tidak pernah berambisi menjadi laut.
Danau Sidenreng tidak pernah iri pada laut.
Ia tidak menuntut gelombang. Ia tidak meminta pasang-surut. Ia cukup dengan menjadi tempat orang belajar menunggu.
Menunggu musim tanam. Menunggu panen. Menunggu harga gabah naik. Menunggu hujan turun di waktu yang tepat.
Menunggu adalah keterampilan.
Dan Sidrap, entah sadar atau tidak, mempelajarinya sejak lama.
Dalam politik lokal, sikap ini kadang disalahpahami sebagai lamban. Kurang agresif.
Tidak cukup ambisius. Tapi barangkali justru di situlah Sidrap menyimpan daya tahannya. Ia tidak meledak-ledak. Ia tidak mudah mabuk janji. Ia menyimpan ingatan panjang.
Orang Sidrap jarang bicara besar. Tapi mereka ingat siapa yang datang dan siapa yang pergi. Mereka tahu betul kapan air danau surut, dan kapan ia meluap tanpa banyak bicara.
Saya pernah berdiri di tepi Danau Sidenreng saat senja. Tidak ada matahari terbenam yang dramatis. Matahari hanya perlahan turun, seolah tidak ingin menarik perhatian. Air tetap tenang. Burung-burung pulang tanpa seremoni.
Di situ saya paham satu hal: tidak semua daerah ditakdirkan menjadi poster pariwisata.
Ada daerah yang tugasnya lebih sunyi—menyediakan pangan, menjaga keseimbangan, dan memastikan kehidupan berjalan tanpa banyak sorotan.
Sidrap adalah itu.
Ia tidak punya laut untuk dibanggakan. Tapi ia punya air yang setia menunggu. Ia tidak punya pelabuhan besar.
Tapi ia punya sawah yang tak pernah berhenti bekerja. Ia tidak punya kapal pesiar. Tapi ia punya perahu kecil yang tahu arah pulang.
Satire terbesar tentang Sidrap mungkin justru datang dari luar: bahwa daerah tanpa laut dianggap kurang lengkap. Padahal, mungkin justru daerah yang terlalu dekat dengan lautlah yang sering lupa daratan.
Sidrap tidak.
Ia tahu persis di mana kakinya berpijak.
Danau Sidenreng mengajarkan itu setiap hari.
Bahwa hidup tidak selalu tentang pergi jauh. Kadang tentang bertahan. Tentang merawat yang ada. Tentang tidak iri pada ombak, karena ketenangan pun punya harga.
Sidrap tak punya laut.
Dan mungkin, justru karena itu, ia tahu caranya tetap utuh.
Di Sidrap, laut adalah sesuatu yang selalu dibicarakan tapi tidak pernah benar-benar datang. Ia seperti tamu yang namanya sering disebut dalam undangan, tetapi kursinya selalu kosong.
Orang Sidrap tahu rasanya asin dari garam dapur, bukan dari angin sore.
Karena itu, imajinasi tentang laut tumbuh liar. Anak-anak membayangkan ombak setinggi rumah. Orang dewasa membayangkan pelabuhan yang ramai.
Para perencana membayangkan garis pantai yang seandainya ada, pasti bisa dimasukkan ke proposal.
Seandainya.
Kata itu sering muncul di Sidrap.
Seandainya Sidrap punya laut, mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi Sidrap tidak dibangun dari seandainya. Ia dibangun dari yang ada.
Daerah pesisir punya politiknya sendiri. Dinamis. Cepat berubah. Seperti ombak. Sidrap tidak. Politik di sini bergerak seperti air danau—perlahan, tetapi dalam.
Tidak mudah berganti arah hanya karena angin sesaat.
Di Sidrap, orang memilih bukan karena janji paling keras, melainkan karena ingatan paling panjang. Siapa yang pernah datang saat panen gagal. Siapa yang hilang setelah kampanye selesai. Semua dicatat, meski tidak pernah ditulis.
Danau Sidenreng mengajarkan satu pelajaran politik yang jarang diajarkan di kampus: stabilitas bukan berarti stagnasi. Ia berarti tahu kapan harus bergerak dan kapan harus diam.
Ada yang bilang Sidrap tertinggal karena tidak punya laut. Padahal, barangkali Sidrap hanya tidak sibuk mengejar simbol. Ia tidak punya pantai untuk difoto, tapi ia punya beras yang dimakan.
Dalam dunia yang gemar memamerkan, Sidrap tampak kikuk. Ia tidak pandai menjual diri. Ia tidak berisik. Ia bekerja dalam diam.
Dan mungkin, itu justru satire paling pahit: bahwa yang paling penting sering kali tidak paling terlihat.
Danau Sidenreng menyimpan lebih banyak cerita daripada yang terlihat di permukaannya. Ia ingat musim banjir.
Ia ingat kemarau panjang. Ia ingat anak-anak yang dulu mandi di tepinya, kini datang membawa anak mereka sendiri.
Laut membawa kapal pergi. Danau membawa ingatan pulang.
Sidrap tak punya laut. Tapi tidak semua yang bernilai harus asin. Ada rasa lain yang lebih lama tinggal di lidah: rasa sabar, rasa cukup, rasa pulang.
Danau Sidenreng tidak pernah bercita-cita menjadi laut. Ia hanya ingin tetap ada. Dan Sidrap, dengan segala keterbatasannya, belajar dari itu setiap hari. (*)

Tinggalkan Balasan