📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppSidrap, katasulsel.com — Ada daerah yang kalau malam gelap gulita. Ada juga yang kalau malam justru bikin orang nyengir: terang, rapi, dan hidup. Sidenreng Rappang memilih yang kedua.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, tak menutupi kekagumannya.
Dalam sambutan resmi pada agenda Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tindak Lanjut Arahan Presiden terkait Kesehatan, Senin, 9 Februari 2026, Sudirman melontarkan kalimat sederhana tapi “kena”:
“Alhamdulillah, semua lampu jalan di desa-desa Sidrap terang seperti kota.”
Kalimat itu terdengar ringan. Tapi maknanya berat. Sebab ia bukan sekadar pujian estetika malam hari—melainkan simbol kerja pemerintahan yang hadir sampai ke lorong-lorong desa.
Di bawah kepemimpinan Bupati H. Syaharuddin Alrif, Sidrap pelan-pelan menjelma jadi etalase baru Sulawesi Selatan. Bukan cuma soal lampu, tapi soal cara daerah bekerja.
Sidrap Naik Kelas, Jadi Model.
Boleh disebut Percontohan
Tak berhenti di soal penerangan, Gubernur Sudirman secara terbuka menyebut Sidrap sebagai daerah model percontohan Provinsi Sulawesi Selatan, khususnya dalam isu kebersihan dan tata lingkungan.
Bukan tanpa alasan. Dalam catatan resmi Rakornas, Sidrap dinilai siap menjalankan berbagai agenda strategis nasional dan provinsi—mulai dari kesehatan, lingkungan, hingga perubahan perilaku masyarakat.
Labelnya jelas: SIDRAP JADI MODEL PERCONTOHAN
Tagline-nya menguat: SARomase Sidenreng Rappang.
Delapan Arah Kebijakan, Sidrap Paling Siap
Dalam Rakornas tersebut, Gubernur Sulsel memaparkan delapan poin penting tindak lanjut arahan Presiden. Menariknya, hampir seluruh poin itu “nyambung” dengan kondisi Sidrap saat ini.
Beberapa di antaranya:
Pertama, program Pekarangan Lestari. Pekarangan rumah bukan lagi sekadar tempat jemur pakaian, tapi ladang sayur hidup. Sidrap dinilai siap karena kultur pertaniannya sudah kuat.
Kedua, Gerakan Indonesia ASRI—Sudirman, Sehat, Resik, Indah. Ini bukan slogan, tapi standar baru pemerintahan.
Ketiga dan keempat, penanganan TBC. Provinsi akan membentuk Satgas TBC Sulsel, termasuk penguatan alat skrining TB yang dikoneksikan dengan dinas terkait. Sidrap masuk radar daerah yang responsif.
Kelima, soal TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle). Pesan Gubernur lugas: daerah yang siap, silakan “angkat tangan” dan hubungi provinsi. Sidrap disebut termasuk yang siap gas.
Keenam, bantuan alat kesehatan Puskesmas dari Kemenkes. Syaratnya jelas: proposal lengkap, data kebutuhan, dan dokumentasi lapangan. Koordinasi dengan Dinkes Provinsi jadi kunci.
Ketujuh, ini yang bikin banyak pejabat deg-degan: Gerakan Jumat Bersih pukul 06.00–09.00. Presiden dan Gubernur menjadikan kebersihan sebagai indikator kinerja. Tak main-main—kantor kotor, pejabat bisa dicopot. Desa yang rajin bersih-bersih justru dapat bonus: kiriman pohon untuk ditanam.
Kedelapan, penegasan pamungkas:
Sidrap ditetapkan sebagai model percontohan kebersihan dan “Sidrap Terang” di Sulawesi Selatan.
Lampu Menyala, Pesan Terbaca
Lampu jalan memang tak bisa menyelesaikan semua masalah. Tapi ketika lampu desa menyala, pesan pemerintah ikut terbaca: negara hadir, daerah bekerja, dan kepemimpinan terasa.
Sidrap hari ini bukan sekadar kabupaten agraris. Ia sedang memoles diri—menjadi rujukan. Menjadi cerita baik di tengah berita yang sering kali kusut.
Kalau kata Gubernur Sudirman, “terang seperti kota”.
Kalau kata warga, “akhirnya desa kami benar-benar kelihatan.”
Dan Sidrap, untuk sementara, layak berdiri di bawah sorot lampu itu.(edy)








Tinggalkan Balasan