📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppDi titik ini, inflasi berubah makna. Ia bukan tanda ekonomi tercekik, melainkan sinyal uang beredar. Konsumsi bergerak. Pasar hidup. Dalam istilah ekonomi, ini inflasi karena permintaan, bukan karena kelangkaan.
Data Bank Indonesia mempertegas cerita itu. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Sidrap melesat. Kuartal pertama mencapai 13 persen, melonjak ke 19 persen pada kuartal kedua, lalu berada di angka 8 persen pada kuartal ketiga.
Angka-angka ini menunjukkan mesin ekonomi Sidrap tidak hanya menyala, tapi sedang digeber.
Syahar juga menepis kekhawatiran bahwa inflasi ini akan berkepanjangan.
“Penurunan inflasi itu nanti terjadi secara alami, karena ini kan hobi,” katanya.
Hobi membeli emas. Hobi merawat diri. Dua hal yang sangat mungkin melambat seiring waktu, tanpa perlu rem darurat dari pemerintah. Inflasi jenis ini, kata Syahar, akan turun dengan sendirinya.
Yang lebih penting, fondasi ekonomi tetap dijaga. Sidrap memastikan seluruh program pemerintah pusat berjalan, terutama di sektor pangan.
“Kami sudah melaksanakan semua program pemerintah pusat, khususnya di Sidrap. Kita sudah swasembada beras,” tegasnya.
Artinya, meski inflasi tertinggi, kebutuhan dasar tetap aman. Beras tersedia. Produksi lokal kuat. Ini membuat inflasi Sidrap tidak mengguncang dapur rakyat.
Sidrap dan Wajo, pada akhirnya, sedang memperlihatkan wajah lain ekonomi daerah.
Bahwa inflasi tidak selalu identik dengan krisis. Kadang, ia hanya cermin dari masyarakat yang rajin menabung emas, gemar tampil prima, dan cukup percaya diri untuk membelanjakan hasil kerjanya.
Di Sulsel, ketika Sidrap mencatat inflasi tertinggi dan Wajo menyimpan emas terbanyak, mungkin pertanyaannya bukan lagi “ada apa dengan ekonomi?”, melainkan: siapkah kita membaca data dengan kacamata budaya?. (*)






Tinggalkan Balasan