📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppSidrap, Katasulsel.com – Wajo dari Sudut Tak Biasa
Inflasi tertinggi di Sulawesi Selatan kini punya alamat yang jelas: Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Angkanya naik, grafiknya menanjak, dan publik pun bertanya-tanya. Namun jawaban dari Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, justru membelokkan diskursus ke arah yang tak biasa. Bukan beras.
Bukan cabai. Bukan pula bawang merah. Penyebabnya adalah emas dan skincare.
“Inflasi di Sidrap naik sekitar tiga persen. Kenapa bisa naik? Karena dampaknya dari emas dan skincare,” kata Syahar, lugas, usai Rapat Koordinasi Forkopimda bersama kepala daerah se-Sulsel yang dipimpin Gubernur Sulsel, Senin, 9 Februari 2026.
Pernyataan itu seolah menampar cara lama membaca inflasi. Selama ini, inflasi selalu diasosiasikan dengan dapur rakyat. Di Sidrap, justru lemari perhiasan dan meja rias yang jadi aktor utama. Fenomena ini menempatkan Sidrap—bersama Wajo—dalam satu panggung ekonomi yang unik di Sulsel.
Sidrap dan Wajo bukan kabupaten biasa dalam urusan emas. Data BPS Sulawesi Selatan 2025 mencatat, Wajo menempati posisi puncak kepemilikan emas rumah tangga minimal 10 gram, mencapai 53,23 persen.
Sidrap tepat di bawahnya, 49,95 persen. Dua kabupaten ini seperti gold belt Sulsel—sabuk emas yang mengilap dari sisi barat ke timur.
Di Sidrap, emas bukan sekadar aset. Ia adalah bahasa budaya. Terutama dalam pernikahan.
“Orang Sidrap itu tahu sendiri, kalau pengantin banyak emasnya. Cilla-cilla (beling-beling),” ujar Syahar.
Kalimat sederhana itu memuat makna sosial yang dalam. Emas adalah simbol harga diri, kemapanan, dan kehormatan keluarga.
Semakin berat emas yang dikenakan pengantin, semakin tinggi gengsi yang dipertontonkan. Tradisi ini tak lapuk oleh zaman. Justru, ia makin hidup di tengah ekonomi yang tumbuh.
Wajo pun punya cerita serupa. Kabupaten ini dikenal sebagai masyarakat perajin, pedagang, dan penabung.
Emas menjadi instrumen simpanan yang dipercaya turun-temurun. Bukan di bank, tapi di laci rumah. Bukan di deposito, tapi di leher dan tangan. Ketika harga emas naik dan transaksi meningkat, efeknya langsung tercermin di statistik inflasi.
Belum lagi skincare. Produk yang dulu dianggap pelengkap, kini naik kasta menjadi kebutuhan gaya hidup. Dari remaja hingga orang tua, dari desa hingga kota, skincare menjadi bagian dari rutinitas harian.
Fenomena glow up, self-care, dan kesadaran penampilan menjalar cepat, terutama di daerah dengan daya beli yang sedang naik.
“Makanya skincare dan emas yang membuat kita inflasi. Kalau yang lain-lain aman, karena ekonomi orang Sidrap tumbuh,” jelas Syahar.
Di titik ini, inflasi berubah makna. Ia bukan tanda ekonomi tercekik, melainkan sinyal uang beredar. Konsumsi bergerak. Pasar hidup. Dalam istilah ekonomi, ini inflasi karena permintaan, bukan karena kelangkaan.
Data Bank Indonesia mempertegas cerita itu. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Sidrap melesat. Kuartal pertama mencapai 13 persen, melonjak ke 19 persen pada kuartal kedua, lalu berada di angka 8 persen pada kuartal ketiga.
Angka-angka ini menunjukkan mesin ekonomi Sidrap tidak hanya menyala, tapi sedang digeber.
Syahar juga menepis kekhawatiran bahwa inflasi ini akan berkepanjangan.
“Penurunan inflasi itu nanti terjadi secara alami, karena ini kan hobi,” katanya.
Hobi membeli emas. Hobi merawat diri. Dua hal yang sangat mungkin melambat seiring waktu, tanpa perlu rem darurat dari pemerintah. Inflasi jenis ini, kata Syahar, akan turun dengan sendirinya.
Yang lebih penting, fondasi ekonomi tetap dijaga. Sidrap memastikan seluruh program pemerintah pusat berjalan, terutama di sektor pangan.
“Kami sudah melaksanakan semua program pemerintah pusat, khususnya di Sidrap. Kita sudah swasembada beras,” tegasnya.
Artinya, meski inflasi tertinggi, kebutuhan dasar tetap aman. Beras tersedia. Produksi lokal kuat. Ini membuat inflasi Sidrap tidak mengguncang dapur rakyat.
Sidrap dan Wajo, pada akhirnya, sedang memperlihatkan wajah lain ekonomi daerah.
Bahwa inflasi tidak selalu identik dengan krisis. Kadang, ia hanya cermin dari masyarakat yang rajin menabung emas, gemar tampil prima, dan cukup percaya diri untuk membelanjakan hasil kerjanya.
Di Sulsel, ketika Sidrap mencatat inflasi tertinggi dan Wajo menyimpan emas terbanyak, mungkin pertanyaannya bukan lagi “ada apa dengan ekonomi?”, melainkan: siapkah kita membaca data dengan kacamata budaya?. (*)






Tinggalkan Balasan