Majene, Katasulsel.com – Dini hari di Banua Selatan, Sendana, Rabu (1/4/2026), bukan lagi sekadar gelap dan sepi.

Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, sementara Satres Narkoba Polres Majene bergerak sigap, menindak laporan warga soal maraknya sabu di kawasan itu.

IH (39), seorang sopir lokal, tak sempat berbuat banyak. Duduk di balai-balai depan rumahnya, ia ketahuan membawa 6 sachet kristal diduga sabu.

Saat petugas mendekat, ia sempat mencoba melarikan diri, tapi langkahnya terhenti oleh kecepatan dan kewaspadaan tim. Handphone merek Vivo dan uang tunai Rp450.000 ikut diamankan sebagai barang bukti.

Advertisement

Tak berhenti di situ, penggeledahan ke rumah IH memperlihatkan “dapur sabu” mini: botol mineral, penutup botol berlubang, kaca pirex, pipet modifikasi, hingga korek gas. Semua perlengkapan itu menjadi bukti bahwa narkoba tidak hanya dikonsumsi, tapi sudah siap edar.

Kasat Narkoba IPTU Japaruddin, S.H., M.M., menegaskan bahwa pengungkapan ini bukan sekadar rutinitas.

“Majene harus bersih dari narkoba. Kurir, pengguna, dan bandar besar, kita kejar tuntas. Tapi kunci utama adalah peran masyarakat. Jangan ragu lapor, setiap informasi bisa memutus rantai narkoba,” tegasnya.

Warga sekitar menyebut momen penangkapan itu seperti “alarm dini” bagi komunitasnya.

Anak muda yang biasanya nongkrong di balai-balai kini teringat, narkoba bukan teman main. Solidaritas warga yang melaporkan menjadi contoh nyata, bahwa keamanan Majene tidak bisa hanya diurus polisi, tapi butuh mata-mata kota dari masyarakat sendiri.

Advertisement

Dengan pengungkapan ini, Satres Narkoba Majene kembali membuktikan komitmennya: wilayah bebas narkoba bukan sekadar slogan, tapi kerja nyata di lapangan, dini hari atau siang bolong.

Majene bergerak, polisi sigap, warga waspada—kombinasi yang jadi tameng bagi generasi muda dari jerat sabu yang mengintai.(*)

Gambar berita Katasulsel