📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppSidrap, katasulsel.com — Kalau ada yang bilang dosen cuma sibuk di kampus, memberi kuliah dan menumpuk nilai mahasiswa, coba lihat Khaeriyah Adri, S.KM., M.Kes, Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Kesehatan UMS Rappang. Di Desa Sipodeceng, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidrap, dia berubah jadi sosok wanita tangguh yang memimpin revolusi kesehatan nyata di lapangan.
Selasa (3/2/2026), Khaeriyah memimpin langsung penarikan mahasiswa Praktik Belajar Lapangan (PBL) III dari desa yang telah menjadi laboratorium hidup bagi perubahan perilaku masyarakat. Tapi penarikan ini bukan sekadar seremonial. Dari hasil kerja mahasiswa yang dipimpin Khaeriyah, balita stunting di Dusun Bonginge turun drastis, hingga nol persen. Nol persen!
“PBL bukan hanya pembelajaran mahasiswa, tapi juga misi kemanusiaan,” kata Khaeriyah dengan tegas, menatap lurus ke para mahasiswa dan warga desa. “Kami hadir di sini untuk menanam kesadaran sehat, bukan sekadar memberi ceramah. Tidak ada kompromi dengan kebiasaan yang merugikan anak-anak dan keluarga.”
Dari data yang dibentangkan, perubahan perilaku masyarakat terlihat jelas:
- Penggunaan tempat sampah terbuka turun dari 90 persen menjadi 38 persen.
- Pemakaian obat nyamuk kimia berkurang drastis dari 89 persen menjadi 21 persen.
- Kebiasaan membakar sampah turun dari 81 persen menjadi 28 persen.
Kepala Desa Sipodeceng, Naming Pallajareng, S.IP, mengaku kagum dengan cara Khaeriyah memimpin. “Bu Khaeriyah tidak sekadar datang, memberi arahan, lalu pulang. Dia turun ke lapangan, berdialog, bahkan ikut memantau warga. Ini benar-benar dosen wanita tangguh yang peduli pada rakyatnya,” ujarnya.
Mahasiswa PBL yang didampingi Khaeriyah pun belajar satu hal penting: disiplin, ketegasan, dan empati itu bisa mengubah masyarakat lebih efektif daripada ribuan jam kuliah teori.
Isma Nurul Kirana, salah satu mahasiswa, menambahkan, “Belajar dengan Bu Khaeriyah itu bukan mudah. Tapi hasilnya nyata. Desa kami berubah, kesadaran sehat meningkat, dan balita stunting turun menjadi nol. Itu prestasi yang bikin bangga.”
Dengan pendekatan tegas tapi persuasif, Khaeriyah tidak hanya menjadi pemimpin lapangan, tapi juga simbol dedikasi dan ketangguhan perempuan di dunia pendidikan kesehatan. Sidrap kini punya contoh nyata: perguruan tinggi bukan sekadar tempat belajar, tapi agen perubahan sosial.
Desa Sipodeceng hari ini: bersih, sehat, dan penuh harapan. Semua itu karena satu sosok yang menolak duduk diam di kantor: Khaeriyah Adri, dosen wanita tangguh yang membuat stunting menjadi cerita masa lalu. (*)






Tinggalkan Balasan