Sidrap, katasulsel.com — Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif (SAR), mengajak seluruh warga untuk merayakan Idulfitri 1447 Hijriah dengan cara yang beda dan guyub tahun ini: salat ied berjamaah di Stadion Ganggawa, lalu langsung ke rumah jabatan (Rujab) untuk halalbihalal bersama keluarga besar dan tetangga.
Ajakan ini disampaikan langsung oleh Bupati Syahar — yang juga Ketua DPW NasDem Sulawesi Selatan — saat menggelar serangkaian kegiatan sosial dan silaturahmi menjelang Lebaran.
Bangkitkan Semangat Bersama di Lapangan
Menurut SAR, Stadion Ganggawa bukan sekadar tempat lapangan luas biasa. Setelah hampir sembilan tahun tak digunakan untuk salat Id, tahun ini menjadi momentum untuk kembali menguatkan semangat kebersamaan masyarakat Sidrap.
“Salatnya di Stadion Ganggawa. Saya bersama keluarga juga akan salat di sana. Kita kembalikan sumangena (semangat) Sidenreng Rappang,” ujar Bupati Syahar.
Lebih jauh, Pemkab Sidrap telah menginstruksikan aparat di semua tingkat pemerintahan — dari kecamatan hingga desa — untuk menggelar Salat Idulfitri di lapangan sebagai bentuk anjuran pelaksanaan ibadah yang lebih luas dan terbuka bagi semua kalangan.
Usai Salat, Silaturahmi Sampai ke Rujab
Usai menunaikan Salat Id di stadion, Syahar mengundang warga untuk melanjutkan tradisi silaturahmi klasik: berkumpul langsung di rumah jabatan bupati. Agenda halalbihalal ini dirancang bukan sekadar seremonial, tapi sebagai bentuk nyata merajut tali persaudaraan antarwarga, tokoh masyarakat, dan jajaran pemerintahan.
Tradisi seperti ini menurut Syahar bukan hanya soal ibadah, tetapi juga soal solidaritas sosial dan kebersamaan antarsesama — terutama setelah melewati bulan Ramadan yang penuh ibadah dan refleksi.
Bukan Sekadar Ritualitas — Tapi Simbol Kebersamaan
Dalam beberapa kesempatan silaturahmi bersama masyarakat, Bupati Syahar kerap menekankan pentingnya momentum Lebaran sebagai waktu untuk memperkuat hubungan antarsesama, mengevaluasi diri, dan memperluas ruang kerja sama dalam pembangunan daerah.
Lebih dari itu, ajakan salat Ied di stadion juga menjadi simbol kebangkitan semangat bersama, di mana masyarakat dari berbagai desa dan latar belakang bisa berkumpul tanpa sekat — satu lapangan, satu doa, satu halaman panjang silaturahmi.(*)

Tinggalkan Balasan